4 Tips Berinteraksi Dengan Saudara Ipar

Menikah bukan hanya menyatukan dua insan berbeda, tapi juga menyatukan dua keluarga. Saudara suami berarti saudara kita juga. Saya menyadari hal ini jauh sebelum menikah. Karena itulah, saya selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan keluarga suami. Seperti misalnya, melakukan kegiatan bersama, rajin bersilaturahmi, rutin berinteraksi, dan lain sebagainya.

Saudara Ipar

dari kanan: Pica, De Nana, Dina, Nick, Khansa

Kebetulan suami (Mas Canggih) anak pertama dan mempunyai adik perempuan bernama Sabrina. De Nana, begitu kami memanggilnya, adalah satu-satunya adik ipar saya. De Nana yang manis dan lucu. De Nana yang sering membuat saya tersenyum kecil ketika memandangi wajahnya saat terlelap. Bagaimana tidak, wajahnya begitu mirip dengan Mas Canggih. Hanya dua bedanya, Mas Canggih laki-laki, De Nana perempuan. De Nana Berkulit putih, Mas Canggih berkulit lebih gelap.

Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa memulai hubungan dan menjaga keharmonisan dengan  keluarga suami (ipar) tidak semudah berinteraksi dengan saudara kandung. Terkadang ada beberapa kendala yang harus kita hadapi di awal pernikahan.

Saya sendiri mengalami beberapa kendala yang alkhamdulillah sudah berhasil saya hadapi, insya Allah. Selain sifat saya yang cukup “pemalu” dan agak “tertutup” ketika bertemu dengan orang baru, juga karena latar belakang keluarga saya yang sangat berbeda dengan keluarga suami. Saya berasal dari daerah pedesaan dengan kondisi sosial ekonomi keluarga yang sederhana, cenderung “lugu”, berpendidikan menengah, dan tidak mengikuti tren perkembangan zaman. Sebaliknya, suami berasal dari masyarakat perkotaan, berpendidikan tinggi, dan mengikuti kemajuan zaman.

Awalnya memang canggung dan ada sedikit kekhawatiran, “Jangan-jangan saya tidak bisa menyesuaikan diri.” Tapi, keraguan itu saya musnahkan sekuat tenaga. Bukankah semua manusia sama di mata Allah? Hanya tingkat keimanan dan ketaqwaan-lah yang membedakan kita di hadapan-Nya.

Saya selalu berusaha bersikap baik dan membersihkan diri dari penyakit-penyakit hati. Alkhamdulillah semua terasa lebih mudah dari yang saya bayangkan. Semua itu tak lepas dari peran suami yang ikut membantu menjelaskan karakter dari masing-masing saudaranya. Misalnya, ada sepupu suami yang sifatnya pendiam dan sedikit bicara. Orang yang belum paham pasti mengira kalau dia orang yang sombong. Karena saya sudah tahu karakternya, jadi tak ada pikiran negatif tentangnya. Justru, saya yang membuka komunikasi sewajarnya. Kalau saya ikut diam berarti tak ada komunikasi kan?

Kini saya merasa sudah semakin dekat dengan keluarga besar suami, terutama De Nana yang memang hampir setiap hari bertemu. Apalagi kami sama-sama perempuan (bukan lawan jenis). Kami leluasa melakukan apa saja. Mulai dari mencoba tutorial hijab bersama, bertukar baju, makan di luar, tidur dalam satu tempat tidur yang sama (tapi tetap beda selimut yaa…). Kalau adik iparku laki-laki, tentu ada batasan-batasan islam yang harus kami patuhi kan?

Saya bersyukur bisa dekat dengan De Nana. Bahkan saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak merenggangkan hubungan kak-adik antara De Nana dan suami. Namun, kenyataannya hubungan De Nana dan Mas Canggih justru jauh dari kata “akrab”. Ibarat Tom and Jerry, mereka selalu berselisih.

Di sinilah saya harus mengambil sikap. Saya berusaha berperan sebagai Si Sulung (kakak) yang baik untuk De Nana, yang seharusnya ia dapatkan dari suamiku. Kakak yang mengayomi dan menyayangi. Pernah suatu hari saya bertanya pada De Nana tentang sikap Mas Canggih, De Nana menjawab, “Waktu masih kecil, Mas Canggih sayang banget sama aku. Tapi, semenjak kenal sama cewek di SMP, Mas Canggih jadi gak sayang lagi, jadi nakal.” Lalu, De Nana menunjukkan moment kebersamaannya dengan Mas Canggih waktu kecil dalam sebuah foto.

“Mba Menik yakin, sebenarnya Mas Canggih sayang sama De Nana. Cuma cara mengungkapkannya saja yang belum sesuai dengan harapan. Yang penting kita selalu berdoa semoga Mas Canggih menjadi laki-laki yang semakin soleh dan menyayangi keluarga karena Allah, amiin….”

Tips Menjalin Hubungan Dengan Saudara Ipar

Lebih dari satu keluarga yang tinggal dalam satu rumah tentu membutuhkan toleransi tinggi agar terjalin hubungan harmonis. Berikut ini merupakan tips menjalin hubungan dengan saudara ipar.

  1. Bersikap terbuka. Saudara ipar bisa menjadi sahabat asal bersikap saling terbuka. Beberapa hal yang biasanya saya dan De Nana lakukan misalnya makan di luar bareng, joging minggu pagi di GOR (Gedung Olahraga), sampai berbelanja barang dagangan bareng. Untuk yang terakhir, kebetulan saya membuat bros kain untuk dijual. Sedangkan De Nana membeli kain untuk dibuat jilbab lalu menjualnya secara online.
  2. Berkomunikasi dengan batasan tertentu. Sebaiknya tidak semua hal kita ceritakan pada saudara ipar. Bicaralah tentang hal-hal umum. Seperti misalnya berita terkini, resep masakan, fashion, dan sebagainya. Simpan rahasia rumah tangga dengan baik. Karena seringkali, masalah semakin rumit ketika kita menceritakannya pada orang lain.
  3. Senantiasa bersikap baik padanya. Saudara ipar pernah menyakiti perasaan kita? Anggap saja angin lalu. Pikirkan bahwa sebenarnya ia tak bermasksud menyakiti kita. Tetaplah bersikap baik padanya.
  4. Menghormati privacy dan kebiasaan. Salah satu hobi dan kebiasaan saya adalah “membaca dan menulis”. Ada sesuatu yang hilang jika sehari saja tidak membaca. Dan jika sudah membaca, maka saya mendadak buta dan tuli. Artinya, saya menjadi tidak peduli pada lingkungan sekitar. Terkadang saya merasa tidak enak hati. Tapi, sulit rasanya menghilangkan “kebutuhan” (kebiasaan) itu. Lagipula, apakah hal tersebut perlu dimusnahkan? Saya sangat bersyukur memiliki adik ipar dan ibu mertua yang sangat mengerti kebiasaan saya ini (mendadak buta dan tuli -red). ^_^

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

Leave A Response