Tips Memulai Usaha “Bros Kain” Bagi Pemula

Ada rasa kepuasan tersendiri jika kita bisa mengubah limbah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Terlebih lagi, jika kita bisa mendapat pemasukan dari limbah ini, waaah cukup menyenangkan bukan? Lalu, bagaimana caranya mengubah limbah kain menjadi uang?

Kalau teman-teman sudah terampil membuat kreasi bermutu, saatnya melangkah ke tahap yang lebih menantang…merintis bisnis bros kain! Saat ini, sebagian besar perempuan di Indonesia sudah mengenakan hijab, bahkan hijab menjadi tren tersendiri di dunia fashion.

Bicara mengenai hijab tak lepas dari aksesoris yang biasa dikenakan para hijabers untuk mempercantik penampilannya. Yups, bisnis bros kain memang cukup menjanjikan saat ini. Bermodal kreatifitas dan keuletan, kita bisa meraup banyak keuntungan hanya dengan modal minim. Beberapa tips berikut ini semoga dapat membantu ya….

Modal

  1. Rincian peralatan dan perlengkapan produksi yang kita perlukan sudah kita bahas di awal. Untuk gunting, lebih baik jika kita memiliki lebih dari satu. Bedakan antara gunting untuk kain, untuk resleting, untuk benang, dan lainnnya. Ini bisa menekan biaya penyusutan karena gunting tidak cepat tumpul, sehingga bermanfaat dalam jangka waktu yang lebih lama.
  2. Tips menekan modal yang kedua, survey para penjahit yang ada di daerah sekitar. Mereka pasti memiliki banyak sisa kain. Tawarkan kerjasama dengan mereka. Tak sedikit loh, penjahit yang mau memberikan kain percanya secara cuma-cuma, “Ambil saja yang banyak, jangan sungkan. Saya malah seneng, daripada numpuk di sini. Pernah karena sesek, saya buang tuh kain sisa.” Begitu ucap seorang penjahit ketika saya menanyakan bundelan sisa kain di dalam karung. Namun, kita juga perlu membeli beberapa kain cantik dan perlengkapan lainnya agar produk yang kita hasilkan tidak terkesan murahan, seperti renda, pita, mute mutiara, kancing, dan sebagainya.

 Produksi

  1. Miliki tempat khusus untuk menyimpan peralatan dan perlengkapan seperti yang sudah kita bahas sebelumnya. Agar lebih mudah dan teratur ketika kita membuat pesanan, pastikan penataannya rapi dan terkategorisasi. Usahakan masing-masing jenis kain kita simpan di tempat terpisah.
  2. Oya, perlu juga melakukan survey ke berbagai tempat untuk mendapatkan bahan-bahan dengan harga dan kualitas terbaik. Pengalaman saya, pernah suatu ketika banyak pelanggan kecewa karena bros yang belum lama mereka beli sudah lepas penitinya. Saya pun melakukan pencarian peniti bros terbaik!
  3. Akan lebih lengkap lagi jika kita memiliki ruang kerja khusus. Terutama jika kita benar-benar serius ingin terjun ke bidang usaha kerajinan ini. Kalau ada designer pakaian yang memiliki ruang ‘spesial’ di rumahnya, bukankah kita juga bisa disebut sebagai designer bros kain? ^_^
  4. Jika kita memproduksi dengan tenaga sendiri, maka manfaatkanlah waktu luang di tengah kesibukan. Misalnya, sambil nonton berita di televisi atau mendengarkan radio. Tetapkanlah satu waktu. Ada atau tidak ada pesanan, buat bros bentuk dasarnya. Ketika ada pelanggan yang memesan kombinasi dari beberapa model bros dasar, kita tinggal menyusunnya dengan cantik. Jadi, pelanggan tak perlu menunggu lama.
  5. Pastikan produk yang kita buat rapi dan kuat. Ini untuk menjaga kualitas produk dan meraih kepuasan pelanggan agar mereka kembali membeli produk kita di lain waktu. Atau paling tidak, mereka akan merekomendasikan produk kita kepada saudara atau teman-temannya. Istilah bekennya ‘getok tular’, ini justru lebih efektif untuk memperluas pasar.
  6. Terus berlatih, berinovasi, serta update selera pasar terkini.

 

Pemasaran dan Penjualan

  1. Kekeliruan para pebisnis pemula di bidang kerajinan: membuat produk sebanyak-banyaknya, baru kemudian menawarkan ke sana ke mari (pengalaman pribadi, hehe). Masukan dari saya, bikin sampelnya, baru kemudian produksi berdasarkan pesanan. Boleh saja produksi dalam jumlah besar terus-menerus, jika memang kita sudah menjadi supplier tetap, supplier sebuah butik misalnya.
  2. Bagaimana caranya agar kita bisa menjadi supplier tetap, bekerjasama dengan butik, toko muslimah, gerai aksesoris, dan sejenisnya? Selain doa, usaha, dan menjaga kejujuran tentunya, pikirkan untuk memasang iklan di sebuah majalah muslimah. Cantumkan tulisan “Informasi dan Keagenan”. Semoga ini menjadi pintu pembuka menuju masa depan yang lebih cerah, cieileh….
  3. Perlu juga untuk membuat katalog produk, baik secara online maupun cetak. Ini mempermudah reseller dan konsumen memilih design yang sesuai dengan selera mereka.
  4. Bagaimana agar produk kita semakin dikenal luas? Manfaatkan event-event yang bernuansa hijab dan mauslimah, seperti talkshow, seminar, bedah buku, workshop, dan sebagainya. Akan sangat membantu jika kita mengenal salah satu dari jajaran panitia yang ada. Utarakan niat kita menjadi sponsor, meski hanya sponsor kecil-kecilan. Sekedar “dorprize” satu paket bros, itu cukup menambah semarak acara bukan?
  5. Saudara atau teman mau nikah? Ambil kesempatan ini! Cobalah menawarkan produk kita sebagai souvenir dengan harga miring. Jangan lupa cantumkan contact person. Siapa tahu ada salah satu tamu yang tertarik memakai produk kita, ya kan?
  6. Layani pelanggan dengan ramah. Ingat, mereka memiliki watak yang berbeda. Ada pelanggan yang selalu merasa cukup puas dengan produk kita, ada juga yang sedikit ‘cerewet’. Pernah suatu ketika pelanggan mengeluh karena ada mute yang lepas, jahitan kurang kuat, atau peniti lepas, dan sebagainya. Maka, saya pun segera memperbaiki kerusakan tersebut sambil tertawa canda dan berkata, “garansi seumur hidup”.
  7. Pahami selera pelanggan. Ada yang menyukai design sederhana, ada yang lebih menyukai design rumit. Ada yang suka warna gelap, ada yang lebih suka cerah. Ada yang suka renda, ada yang tidak. Ada yang gemar hiasan mute mutiara, ada yang lebih menyukai dedaunan. Jika kita mampu memahami selera pelanggan, memahami apa yang mereka mau, itu akan mempermudah kerja kita.

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

Leave A Response