Review Buku “Islamic Parenting” by Syaikh Jamal Abdurrahman

RECOMEND

Buat sista yang pengen punya anak soleh/solehah, harus baca buku ini. Baik yang udah punya anak ataupun yang sedang merencanakan punya anak, semua nggak ada kata terlambat say! Yaah…seperti saya yang sudah hampir 4 tahun berencana (hiks).

Isi bukunya full kisah-kisah dan hadits Rasulullah dalam mendidik anak, baik anak kandung beliau, maupun anak orang! Hehe…maksudnya cara mendidik beliau berlaku untuk semua anak-anak, nggak cuma anak kandung atau cucu-cucu beliau saja. Semua bisa dan boleh menerapkannya, malah dianjurkan.

Seperti yang sudah dijelaskan penulis di halaman xi, “Buku ini mengumpulkan tak sekadar dalil, tapi bagaimana praktik pendidikan anak yang dilakukan Nabi sehari-hari, langkah demi langkah. Lengkap. Bahkan, Anda akan diajak belajar kepada Nabi saat beliau mengajar anak dalam jenjang usia yang berbeda.”

Sista tahu sendiri kan, banyak teori parenting di jaman modern seperti sekarang. Dan nggak sedikit yang bingung harus pilih metode yang mana. Mungkin ada juga yang mikir kalo metode jaman dulu udah nggak sesuai dengan jaman sekarang. Dulu belum ada HP, belum ada komputer, apalagi internet. Jadi, metodenya juga harus beda dan metode yang dipake jaman Rasul itu sudah kedaluarsa…benarkah?

Sista-sista tersayang…insyaAllah semua kebimbangan itu akan sirna setelah baca buku ini! Ada hal-hal mendasar yang harus kita tanamkan sejak dini pada si buah hati. Sesuatu yang tak lekang oleh waktu dan jaman. Kalo sampe kita mengabaikannya, maka jangan kaget ketika buah hati berubah saat dewasa nanti, kita tak lagi mengenal kepribadiannya, kepribadian yang kita tanamkan bertahun-tahun sedari kecil. Kita pun menjadi bingung darimana dan kapan pengaruh-pengaruh itu merasuki jiwanya?

Pengalaman mendidik anak saya memang terbatas karena saya belum punya anak. Yah, hanya sebatas pernah jadi wali kelas 3 SDIT ALAM HARUM Purbalingga selama 2 tahun, wali kelas MA dan SMK selama 2 tahun juga. Tapi, setelah membaca buku ini, semua pertanyaan-pertanyan seputar parenting jadi tercerahkan sist! Ibarate ya…otak saya ini penuh dengan kalimat: “Ooo…jadi begitu…”.

COVER

buku islamic parenting

IDENTITAS BUKU

Judul: Islamic Parenting Pendidikan Anak Metode Nabi

Penulis: Syaikh Jamal Abdurrahman

Editor: Andi Wicaksono

Penerbit: Aqwam

ISBN: 978-979-039-087-4

Tahun Terbit: 2010

Cetakan ke-3

Jumlah halaman: 311

Jenis cover: Harcover

Kategori: Pendidikan Islam

Harga: Rp 85.000,00

Saya beli waktu pameran HARI PERTAMA di Gedung Mahesa Djenar, Purbalingga. Sista tahu sendiri kan, saya nggak rela  melewatkan pameran buku meski cuma beli satu ehehe ^_^

MY OPINION

  1. Isinya sangat padat dan berisi. Kalo saya bilang: mantap! Sebenernya relatif sih…mungkin orang yang sudah paham banget tentang parenting islami menganggap buku ini biasa aja. Kalo saya…yaah, nggak buta banget kok, lumayan sering baca-baca buku parenting juga. Tapi kebanyakan lebih aplikatif, misalnya mainan edukatif, makanan sehat ibu hamil, merangsang kecerdasan bayi sejak dalam kandungan, dan sebagainya. Kalo saya bilang, buku-buku itu seperti atap, jendela, pintu, dan interior rumah lainnya. Sedangkan buku “Islamic Parenting” ini seperti pondasinya!
  2. Karena saya suka buku yang bahasanya ringan dan santai, maka saya butuh sedikit perjuangan untuk menyelesaikan buku ini. Penulis menyajikan materi dengan gaya bahasa sangat serius dan hampir tidak ada humornya, sepertinya memang tidak ada. Jadi, terus terang saya cepat lelah dan bosan ketika membacanya. Kalo untuk orang-orang yang karakternya serius dan tidak suka bertele-tele, biasanya suka buku seperti ini. Jadi, ini masalah selera saja kok sist.
  3. Di halaman 117, ada kalimat yang perlu dikoreksi kembali ini Syekh: “Orang tuanya pun akan kesulitan menyelamatkannya anak dari itu.” Mungkin maksudnya begini ya: “Orang tuanya pun akan kesulitan menyelamatkan anaknya dari itu.” Nuwun.

RATING

So far, buku ini penting banget untuk para orang tua yang peduli dengan pendidikan karakter anak islami. Tapi, karena bahasanya yang sangat sangat sangat serius tanpa humor, jadi maafkan kalo saya kasih rating 3 ya. Saya yakin banyak yang nggak setuju dan menuntut lebih. Tenang aja gaes, ini cuma masalah selera kok.

SONG

Video klip lagu ini cukup mencerminkan metode pendidikan ala Nabi. Video ini menceritakan seorang anak laki-laki yang selalu mengganggu ibunya dengan tingkah-tingkah nakalnya. Tapi, sang ibu dengan sabar menghadapi dengan senyuman, tanpa emosi! Endingnya, si anak sudah dewasa dan baru pulang dari perantauan. Sesampainya di rumah, dia terkenang kenakalannya di masa lalu dan menertawai diri sendiri. Sangat terlihat kalo dia sangat merindukan dan sangat menyayangi ibunya. Lalu, si anak menunjukkan sebuah tulisan untuk ibunya: “You are number one for me”. So sweet yaaa. Uuuunch. ^_^

NEW THOUGHTS

Halaman xvii

Anak yang telah memiliki rasa malu tidak selayaknya dibiarkan begitu saja. Perasaan malunya itu harus dimanfaatkan untuk mendidiknya. Bila pada awal pertumbuhan seorang anak ditelantarkan, nantinya kebanyakan dari mereka akan berakhlak buruk.

***

Kalo usia Golden Age kan bagus untuk menumbuhkan dan mengasah bakat anak ya sist, daya ingat di usia ini juga masih kuat banget. Dalam masa ini anak cenderung belum mengenal rasa takut atau malu. Seiring beranjaknya usia, anak mulai malu ketika melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan nuraninya. Nah, ini kesempatan buat kita sist! Kesempatan untuk mengasah dan mengarahkan kepribadiannya. Ketika anak sedang galau, di saat itulah kita suapi mereka dengan siraman-siraman rohani. Tinggal pinter-pinternya kita aja sistaa, harus telaten memang. Padahal urusan kita udah sebarek-abrek ya sist. Eh kok disuruh  memperhatikan gerak-gerik & tingkah laku si anak. Harus semangat ya sista…kan buat tabungan di surga kelak. ^_^

Halaman xviii

Bila sang anak suatu saat melakukan hal yang berlawanan dengan kebiasaan baiknya, orang tua hendaknya berpura-pura tidak mengetahuinya dan tidak mempermalukan atau menyudutkannya. Terlebih bila anak menutup-nutupi perbuatan tersebut dan berusaha agar tidak diketahui orang lain. Namun, bila ia mengulanginya lagi, ia pantas ditegur tanpa diketahui orang lain. Sebaiknya dikatakan kepadanya, “Jangan ulangi lagi perbuatanmu ini karena nanti akan diketahui oleh banyak orang.”

Janganlah terlalu sering memarahi atau mencela anak, karena anak justru akan terbiasa mendengar kalimat tersebut. Semakin sering dimarahi, anak akan berani melakukan perbuatan buruk dan kemarahan (peringatan) orang tua tidak akan berpengaruh lagi di hatinya.

Seorang anak juga harus dicegah dari membanggakan sesuatu yang dimiliki oleh orang tuanya di depan teman-temannya. Sebaliknya, ia mesti dibiasakan bersikap rendah hati, menghormati teman, dan lembut dalam berbicara dengan mereka.

***

Nah looh…jangan terlalu sering marah tsaaay…. Ibarat obat, dosisnya sudah terlalu tinggi, sehingga mengakibatkan ketergantungan. So? So, kalo minum obat dosis rendah udah nggak mempan.

Paham maksud saya kagak? Hehe. Ya maksudnya, kalo kita keseringen marah-marah, entar anak sama suami jadi kebal. So, ketika kita marah-marah, mereka biasa aja, masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Kasian kan, udah capek-capek marah, eh dianggap angin lewat. Hiks.

Makanya Nick…jangan meluapkan emosi dengan kemarahan. Bahkan Rasulullah pernah menasehati sahabatnya, “Jangan marah! Jangan marah! Jangan marah!” Sampe tiga kali loh! Ini membuktikan bahwa marah itu sangat tidak baik…okeeey?!

Halaman 92 (Usia 0-3 Tahun)

Dengan bercengkerama dan sikap lemah lembut kepada anak-anak serta menyesuaikan diri dengan berpura-pura menjadi anak kecil yang sebaya dengannya, Rasulullah menyalurkan kehangatan dan kasih sayang yang tulus ke dalam jiwa anak-anak. Beliau menjauhi sikap yang kaku, keras, ketat, dan kejam.

***

Ada orang (tua) yang ingin terlihat wibawa dan ditakuti oleh anak-anak. Mereka bersikap keras dengan alasan mendidik agar anak tidak berbuat salah. Padahal…Rasulullah selalu berlemah lembut pada SEMUA anak-anak. Bahkan Rasul (manusia paling mulia) rela merendah di hadapan anak-anak. Saking istimewanya, Rasul tak kunjung bangkit dari sujudnya hanya karena cucu beliau menaiki punggungnya. Rasul membiarkan cucunya menaiki punggungnya sampe puas!

Halaman 110 (Usia 4-10 Tahun)

Selain penting bagi pertumbuhan mental dan fisik anak, permainan mereka perlukan sebagaimana orang dewasa memerlukan pekerjaan. Pikirlah dahulu untuk membubarkan mereka saat bermain. Kalau memang perlu untuk memperingatkan karena waktu yang tidak tepat atau membahayakan diri dan orang lain, lakukan dengan penuh bijaksana.

***

Ugh, ternyata bermain itu penting banget buat anak ya bund?! Anak yang nggak sempet bermain ibarat orang dewasa yang nggak punya pekerjaan (pengangguran). Pernah jadi pengangguran? Super bosen bete bete gilaaa! Pernah dengar juga saya…bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Jadi, jangan renggut itu dari mereka ya bundaaa. Lagipula bermain itu bagus untuk mental dan fisik mereka, ya kan?

Halaman 112 (Usia 4-10 Tahun)

Anas yang pernah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun mengungkapkan kesannya terhadap beliau dengan mengatakan, “Aku telah melayani Rasulullah selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengatakan, ‘Ah,’ tidak pernah menanyakan, ‘Mengapa engkau melakukan itu?’ dan tidak pula mengatakan, ‘Mengapa engkau tidak melakukan itu?’

Mungkin seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah lembut dan banyak toleran, anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya. “Bila memang demikian, mengapa hal yang dikhawatirkan itu tidak dilakukan oleh Anas, Ibnu Abbas, Zaid bin Haritsah, dan putranya Usamah bin Zaid, anak-anak Ja’far, anak-anak pamannya, Al-Abbas maupun anak-anak lainnya, yang pendidikan mereka ditangani oleh Nabi? Mengapa mereka justru menjadi tokoh dan imam pemberi petunjuk bagi manusia? Mengapa mereka atau sebagian dari mereka tidak ada yang bersikap kurang ajar?

Orang yang tidak menyukai metode pendidikan yang dilakukan Nabi, atau memandang bahwa ada yang lebih baik, atau memasukkan beberapa perbaikan dan modifikasi dalam metode pendidikan Rasulullah, tentulah anak seperti Ibnu Abbas dan Usamah akan mengalami kegagalan bila dididik olehnya dan pemikiran mereka akan berubah.

Jika dia mengatakan, “Maksudnya bukan begitu, metode yang digunakan oleh Nabi adalah yang terbaik, tetapi keadaan para pemuda telah berubah dan begitu pula generasi masa kini, seperti yang Anda lihat sendiri. Di samping itu, kita tidak sehebat Nabi.”

Kami katakan bahwa dalam menjalankan misi pendidikannya, Nabi telah berinteraksi dengan sejumlah pemuda dengan karakter yang berbeda-beda. Nabi pernah berinteraksi dengan seorang pemuda yang datang kepadanya meminta izin untuk berzina, maka beliau memperlakukannya dengan lembut dan cara yang bijaksana sehingga mampu menggandeng tangannya menuju jalan keselamatan dan tobat.

***

Menurut saya, inti dari buku ini ada di halaman yang ini. Penulis menjawab keraguan pembaca terhadap metode Nabi. Bukan itu saja, penulis juga membandingkan metode Nabi dengan metode lain. Sista boleh sependapat dengan penulis atau tidak, silakan saja. Kalo saya si memang nggak bakat marah-marah dan sering merasa itu adalah salah satu kelemahan. Kesannya kok lemah dan kurang tegas, begituya? Tapi ya, saya ambil sisi baiknya saja. Tegas kan tidak sama dengan marah-marah to?

Halaman 117 (Usia 4-10 Tahun)

Anak harus dijauhkan dari kebiasaan berkumpul dalam perbuatan sia-sia, kebatilan, nyanyian, mendengarkan kata-kata keji, bid’ah, dan ucapan yang buruk. Bila anak telah terbiasa mendengar hal itu, ia akan kesulitan menjauhinya ketika dewasa. Orang tuanya pun akan kesulitan menyelamatkan anaknya dari itu. Mengubah kebiasaan merupakan perkara yang paling sulit. Perlu pembaharuan karakter untuk mengubah suatu kebiasaan. Padahal, keluar dari kungkungan karakter itu sangat sulit.

***

Oh…jadi begitu ya? Berkumpul dalam perbuatan sia-sia itu apa aja ya sist? Nyanyian? Emm…nyanyian yang bagaimana ini syekh?Agak nyesek dikit secara Mas suami kan guru musik dan dunianya itu musical banget. Sering kumpul-kumpul juga sama teman-teman musiknya. Kalo punya anak otomatis kan kebawa ya? Baiklah, yang jelas jangan sampe anak terbiasa  mendengar ucapan-ucapan buruk dan berkumpul tanpa faedah. Bismillah. Ambil sisi positifnya yuk!

Halaman 125 (Usia 4-10 Tahun)

Abdullah bin Ja’far bercerita, “Pada suatu hari Rasulullah memboncengku di belakangnya. Beliau kemudian membisikkan suatu pembicaraan kepadaku agar tidak terdengar oleh seorang pun.”

Tidak diragukan lagi bahwa rasa percaya Nabi kepada anak kecil untuk menyimpan rahasia akan membangun rasa percaya diri dalam jiwa anak. Sikap ini membuat anak merasa dapat dipercaya dan dapat memberi pemahaman betapa pentingnya tugas rahasia yang diembankan kepada dirinya.

***

Tapi, dipilih-pilih dulu ya, jangan sembarang ngasih tahu rahasia, bagaimanapun mereka kan masih anak-anak. Buat jaga-jaga siapa tahu anak cerita ke teman-temannya. Pilih yang kira-kira nggak menimbulkan dampak negatif jika ternyata rahasia tersebut menyebar luas. Namanya juga rahasia anak, pasti rahasia kecil-kecilan ya kan? Misalnya, rahasia kalo waktu sekolah emaknya pernah dapat nilai rapot merah mungkin? Gimana menurut sista, bahaya nggak? Jangan-jangan malah si anak niru emaknya, “Emak gue juga dapat nilai merah, kalo gue dapat 6 kan berarti lumayan lebih bagus.” Dhuaaar…!

Halaman 163 (Usia 10-14 Tahun)

Orang yang menghukum anaknya dalam keadaan marah, maka hukuman yang ditimpakannya akan berakibat:

  1. Tidak bermanfaat.
  2. Menimbulkan rasa antipati dan kebencian dalam diri anak.
  3. Pukulan yang ditimpakan saat itu bukan untuk tujuan mendidik, melainkan untuk nenuaskan diri dan menyalurkan kemarahan yang bergejolak dalam dada terhadap anak didik yang mestinya dikasihani.
  4. Orang yang dalam keadaan marah seperti ini biasanya tidak memelihara hukum-hukum Allah saat menimpakan pukulan. Adakalanya dia memukul bagian wajah atau bagian yang sensitif seperti kepala, leher, dan kemaluan. Padahal, bagian-bagian ini tidak boleh dipukul. Bisa jadi juga pukulan yang diarahkan ke bagian-bagian tersebut akan menimbulkan cacat permanen pada diri anak, bahkan akan menghantarkannya pada kematian.

***

Ketika anak masih kecil, dia tidak akan melawan. Tapi, jika sudah dewasa, dia tak akan lupa pukulan-pukulan yang dia rasakan. Apalagi ketika melihat luka bekasnya di wajah, bisa jadi anak akan membenci ibunya sendiri! Dalam artian, tak ada lagi empati, perhatian, dan bentuk kasih sayang lainnya.

Bunda, jika sedang marah atau emosi, sebaiknya tarik nafas, beristighfar, lalu ambil wudhu yaa. Jangan biarkan setan turut campur dan menguasai jiwa. Karena itu, ingatlah Allah selalu ya, bunda sayaaang. ^_^

Halaman 165 (Usia 10-14 Tahun)

An-Nu’man bin Basyir berkata, “Nabi pernah diberi hadiah anggur dari Thaif lalu beliau memanggilku dan bersabda, ‘Ambillah satu tangkai ini dan berikan kepada ibumu.’ Namun, aku memakannya sebelum sampai kepada ibuku. Keesokan harinya, beliau bertanya kepadaku, ‘Apa yang terjadi dengan setangkai anggur kemarin? Apakah engkau telah memberikannya kepada ibumu?’ Tidak,’ jawabku. Maka beliau memberiku nama pengkhianat kecil.”

Sebagian orang ada yang berpendapat bahwa anak kecil bisa saja tergoda lalu memakan buah anggur yang mestinya diberikan kepada orang lain, dan itu bukanlah sebuah masalah besar. Memang seperti itulah kejadian yang diceritakan dalam hadits ini karena anak tersebut tak kuat menahan seleranya. Meskipun demikian, apakah Nabi tidak membiarkan persoalan ini berlalu begitu saja tanpa memberikan pelajaran kepada sang anak bagaimana ia harus menjaga amanat, bersabar menahan seleranya, dan menyampaikan amanat kepada alamat yang dituju? Sekali-kali tidak. Kasih sayang Nabi kepada anak tersebut agar kelak ia tumbuh menjadi seorang yang dapat dipercaya dan menjaga amanatnya, jauh lebih besar daripada kasih sayang beliau untuk memenuhi perut anak tersebut dan memuaskan nafsu makannya.

Barangkali kekeliruan persepsi seperti inilah yang memperdayai sejumlah besar orang hingga di antara mereka tidak mau membangunkan anaknya untuk shalat subuh karena kasihan kepadanya agar sang anak berangkat ke sekolah dalam keadaan cukup tidurnya. Bahkan sebagian yang lain ada yang tidak mau mencegah anaknya memakan makanan yang haram atau mencuri, karena memandang anaknya masih kecil yang tidak perlu dicela atau ditegur dan masih dapat dimaafkan. Bila demikian, mengapa Nabi mengeluarkan buah kurma dari mulut Al-Hasan dan bersabda kepadanya, “Ukh, ukh!” Yakni muntahkanlah kembali. Sungguh, orang yang meneladani sikap Nabi tidak perlu terjerumus ke dalam kekeliruan seperti ini yang berdampak sangat negatif terhadap masa depan sang anak.

***

Allah saja memberi balasan terhadap setiap perbuatan manusia meskipun hanya sebesar biji sawi misalnya, baik perbuatan baik ataupun perbuatan buruk.

Ingat ya bunda, jangan sampai gerak-gerik si buah hati luput dari pengawasan kita. Jangan lengah dan tetap waspada terhadap pengaruh-pengaruh negatif yang ada di sekitar buah hati. Tapi, bukan berarti bunda menginterogasinya setiap hari, “Kamu dimana, sama siapa, sedang berbuat apa?” Hahaa…. Jadilah sahabat yang enak diajak ngobrol agar anak merasa nyaman & aman curhat sama kita tentang apa aja. Semoga mereka tumbuh menjadi anak yang sholeh/sholehah, amiin.

Halaman 176 (Usia 10-14 Tahun)

Nabi menceritakan kepada anak-anak tentang pengalaman kecilnya saat beliau menghadiri pertemuan orang-orang dewasa agar tergambarkan dalam benak mereka bagaimana cara anak-anak muda bergaul dengan orang-orang dewasa dengan baik lagi terhormat.

***

Miris rasanya ketika melihat ada anak yang bersikap kurang sopan terhadap orang yang lebih tua. Bunda, mari kita didik buah hati agar memiliki pribadi santun dan rendah hati ya! Kita arahkan dengan lembut, misalnya melalui cerita-cerita masa kecil dahulu, hihiii….

Halaman 183 (Usia 10-14 Tahun)

Dengan membawa anak ke dalam pertemuan-pertemuan umum dan pesta-pesta pernikahan, menjadi lengkaplah pembentukan pribadi anak dalam kehidupan sosial. Dengan syarat, hendaknya dalam pertemuan tersebut tidak bercampur dengan orang-orang yang tidak berpakaian yang menampakkan aurat dan membuka kerudung, serta tidak duduk bersama mereka yang melanggar etika syariat, seperti para perokok dan para penyanyi yang fasik.

***

Kebetulan nih. Saya paling males ke acara hajatan sendiri. Sekalian melatih anak berinteraksi dengan orang banyak, latihan beradaptasi. Sehingga, anak tak canggung lagi ketika bertemu dengan orang-orang asing. Ini penting untuk kehidupannya kelak loh sist.

Halaman 221-222 (Usia 15 -18 Tahun)

Bila waktu luang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan atau permainan yang sifatnya mubah, hendaknya semua itu diniatkan untuk mengistirahatkan jiwa agar tidak bosan karena selalu aktif dalam amal ketaatan. Selain itu juga untuk memulihkan semangat dan kekuatan dalam ketaatan kepada Allah. Dengan niat tersebut, manusia akan mendapatkan pahala dalam kegiatan yang bersifat mubah. Bahkan, berbagai aktivitas baik yang telah menjadi budaya suatu wilayah akan berbalik menjadi ibadah.

***

Niatkan semua karena ibadah. Bahkan, tidur pun juga bernilai ibadah jika diniati ya kan? Hehe.

Halaman 222 (Usia 15 -18 Tahun)

Ujian terberat yang menimpa umat ini adalah fanatisme dalam olahraga, khususnya seputar klub sepakbola. Mereka senantiasa berusaha keras untuk bisa menyaksikan setiap pertandingan dan tidak pernah ketinggalan beritanya. Semua surat kabar dan majalah yang membahas tentang tim kesayangannya akan dibaca sampai tuntas. Berbagai perbincangan seputar sepakbola terjadi di jalan-jalan dan sarana transportasi. Bahkan di tempat-tempat kerja.

***

Kebetulan saya dan suami tidak suka dengan bola. Bukannya tidak suka sih, cuma biasa aja, nggak fanatik. Nama suami saya memang “CANGGIH FINALTI”, tapi dia lebih suka musik, hahaaa. No coment lah.

MOVIE & VIDEO

Belum nemu say.

FAVORITE QUOTES

Halaman 114 (Usia 4-10 Tahun)

Nasihat Al-Ghazali: Al-Ghazali mempunyai nasihat yang sangat berharga untuk para pendidik. Ia mengatakan dalam nasihatnya, “Janganlah banyak mengarahkan anak didik dengan celaan karena yang bersangkutan akan menjadi terbiasa dengan celaan. Dengan celaan anak akan bertambah berani melakukan keburukan dan nasihat pin tidak dapat mempengaruhi hatinya lagi.

Hendaklah seorang pendidik selalu menjaga wibawa dalam berbicara dengan anak didiknya. Untuk itu, janganlah ia sering mencela, kecuali sesekali saja bila diperlukan. Hendaknya sang ibu mempertakuti anaknya dengan ayahnya serta membantu sang ayah mencegah anak dari melakukan keburukan.

***

Kalo prinsip saya sih: dalam situasi dan kondisi apapun, ucapkan yang baik-baik saja. Karena ucapan adalah doa.

Ibaratnya…kalo kita sudah biasa minum obat berdosis tinggi, maka obat yang dosisnya rendah sudah nggak ngefek lagi. So what? Pernah denger kalo obat itu racun? Terlalu sering mengonsumsi obatan-obatan berdosis tinggi bisa membahayakan ginjal gaes! Kalo ginjal kena? Ya…jadi nggak bisa berfungsi dengan baik, yaitu menyaring darah biar nggak kotor. Bayangkan kalo ginjal kita rusak parah? Tubuh jadi penuh dengan darah kotor…mau? Hiiiii…!

Sama seperti anak yang terbiasa dengan celaan. Ketika mendengar celaan (nasihat), maka tidak akan berpengaruh baginya. Akibatnya, hatinya menjadi rusak dan tidak berfungsi dengan baik.

Halaman 127 (Usia 4-10 Tahun)

Ibnul Qayyim berkata, ” Salah satu wujud pendidikan yang buruk pada anak ialah membiarkan mereka mengambil makanan yang memenuhi wadah serta banyak makan dan minum. Pendidikan yang lebih bermanfaat baginya ialah hendaknya mereka diberi makan yang tidak sampai mengenyangkan agar pencernaan mereka berjalan dengan baik, pencampurannya seimbang, mengurangi kotoran di tubuhnya, menyehatkan badan mereka, dan meminimalkan penyakit karena kotoran yang hanya sedikit di bahan makanan.”

***

Jangan penuhi perut dengan makanan. Bagilah perut menjadi 3 ruang: ruang pertama untuk makanan, ruang kedua untuk minum, ruang ketiga untuk udara. “Kan biar anak saya gemuk. Kalo makannya sedikit ntr jadi kurus, dikira kurang pangan.” Bunda, jika perut penuh terisi oleh makanan, maka tubuh menjadi malas bergerak dan juga menghambat produktivitas. Lagipula, terlalu banyak makan juga nggak sehat kan? Makanya Allah memerintahkan kita berpuasa. ^_^

Halaman 170 (Usia 10-14 Tahun)

Al-Ghazali berkata, “Anak harus dijaga untuk tidak bergaul dengan teman-teman sebaya yang dibiasakan hidup senang, mewah, dan mengenakan pakaian-pakaian yang mahal. Karena, apabila anak dibiarkan seperti itu sejak usia dini, kebanyakan akan tumbuh menjadi anak yang berperangai buruk, pendusta, pendengki, suka mencuri, suka iseng, suka menipu, dan suka berbuat seenaknya. Tiada cara lain untuk menghindarkan anak dari hal-hal tersebut kecuali dengan memberikan pengajaran yang baik dan pendidikan yang menyeluruh.”

***

Berteman dengan minyak wangi ikutan bau wangi, berteman sama penjual minyak tanah ikut kecipratan bau minyak tanah. Pernah denger kan? Kurang lebihnya begitu pengaruh teman sebaya terhadap anak. Untuk mencari tahu siapa sebenernya Si Fulan, maka lihatlah siapa teman-teman dekatnya.

Halaman 197 (Usia 10-14 Tahun)

Abdurrahman bin Abu Laila mengatakan, “Para sahabat Rasulullah pernah menceritakan kepada kami bahwa ketika mereka sedang dalam perjalanan bersama Nabi dalam suatu misi, tiba-tiba seorang lelaki di antara mereka tidur. Salah seorang di antara mereka pun mengambil anak panahnya. Ketika lelaki itu terbangun, ia terkejut karena anak panahnya tidak ada dan orang-orang menertawakannya. Nabi bertanya, ‘Mengapa kalian tertawa?’ Mereka menjawab, “Tidak ada, melainkan kami telah mengambil anak panah orang ini, lalu ia terkejut.’ Rasulullah bersabda, ‘Seorang muslim tidak boleh menakut-nakuti saudaranya sesama muslim’.”

***

Hayoo…siapa yang suka bercanda kelewatan kaya gini? Nggak boleh ya say! Kalo becanda sewajarnya aja.

Rasulullah juga suka bercanda, tapi nggak sampe ketawa ngakak, paling cuma senyum aja tsaaay….!

Halaman 229 (Usia 15-18 Tahun)

Anas berkisah, “Demi Allah, aku telah melayani Nabi selama sembilan tahun, tapi aku belum pernah mendengar beliau berkata kepadaku tentang sesuatu yang ku lakukan, semisal, ‘Mengapa engkau lakukan ini?’ Beliau juga tidak pernah mengatakan terhadap sesuatu yang tidak aku lakukan, semisal, ‘Mengapa engkau tidak lakukan itu?'”

***

Ini menurut saya ya sist, MENURUT SAYA. Rasulullah kan manusia paling mulia ya, ibarate manusia sempurna. Beliau mumpuni di segala bidang, termasuk psikologi. Rasul pasti tahu mengapa sesorang berbuat sesuatu, jadi beliau nggak perlu tanya kan? Karena beliau sudah tahu jawabannya. Daripada tanya “Mengapa?” mendingan langsung mengambil sikap solutif agar Anas atau Fulan agar tidak mengulangi kesalahan tersebut, ya kan?

Nah, semisal kita sudah tahu kenapa seseorang melakukan suatu kesalahan, ya sudah, nggak perlu tanya ke dia kan? Mkasudnya apa coba? Mempertegas kesalahannya? Ah sudahlah…jadi emosi sendiri saya. Hehe.

Halaman 262 (Usia 15-18 Tahun)

Al-Ghazali menjelaskan, “Apabila dalam diri seorang anak terlihat akhlak yang baik dan perbuatan yang terpuji, hendaklah ia dihormati, diberikan imbalan kepadanya sesuatu yang dapat menyenangkan, dan dipuji di hadapan orang banyak guna menyemangatinya untuk melanjutkan akhlak yang mulia dan perbuatan terpujinya.

Apabila sang anak melakukan hal yang bertentangan dengan apa yang telah disebutkan di atas dan di sisi lain ia berupaya keras untuk menyembunyikannya, hendaklah sang pendidik berpura-pura seakan tidak mengetahui sesuatu pun yang dilakukannya agar si anak tidak merasa malu dengan kesalahannya, hendaknya ia ditegur secara rahasia, dijelaskan akibat kekeliruannya, dibimbing ke arah yang benar, dan diperingatkan agar tidak mengulangi lagi kekeliruannya.”

***

Warning! Kalo mau memuji, jangan terlalu lebay ya sist! Natural aja. Sedikit curcol nih, mamak saya menganggap dan meyakini bahwa saya adalah anak yang cantik. Di setiap kesempatan mamak selalu memuji bahwa saya cantik dan pantas memakai baju apa saja.

Tidak sekedar meyakini diri sendiri bahwa anaknya cantik, tapi beliau juga berhasil meyakinkan saya bahwa saya cantik. Alhasil, sampai saat ini saya percaya bahwa saya memang cantik. Meskipun kenyataannya ada teman saya yang lebih cantik, entah mengapa saya terlanjur percaya diri, hehe. Hebatnya, mamak juga mengajarkan bahwa kita tidak boleh menarik perhatian orang lain dengan kecantikan yang kita miliki. Kita tidak boleh berusaha lebih unggul (baca: terlihat lebih cantik) dari orang lain. Tidak boleh membuat orang lain merasa jelek ketika bersama kita.

Nah, suatu hari ketika saya sudah dewasa, mamak memuji saya untuk kesekian kalinya. Seperti biasa lah, katanya saya cantik. Tapi, yang bikin saya kesal, masa beliau bilang saya lebih cantik dari Marshanda. Orang se-RT juga tahu kalo Marshanda itu lebih cantik dari saya. Hahahaaa. Plis ya sist, jangan lebay!!! Mendingan jujur meski kadang menyakitkan. Wkwk.

MY QUOTE

Nick (2017): “Anak yang terbiasa dengan celaan itu ibarat anak yang terbiasa minum obat dosis tinggi. Ketika minum obat dosis rendah, tubuhnya tidak bereaksi karena sudah kebal. Sama halnya ketika anak mendapat celaan ringan (nasihat), hatinya juga tdak akan bereaksi (tersentuh).”

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

Leave A Response