Review Buku “89 Cara Bahagia ala Atalia” by Atalia Praratya

RECOMEND

Anda salah satu fans Atalia Praratya atau yang populer dengan nama Atalia Kamil? Bukan hanya karena pesona kecantikannya saja, tapi juga karena kesuksesannya dalam mengelola rumah tangga dan cintanya. Anda ingin seperti Teh Lia yaa? Haaayoo ngaakuuu….! Ehehe. Sama, saya juga. Pengennya jadi perempuan bahagia, cantik, pinter, sukses dalam karir dan rumah tangga, juga disayang suami.

Harapan kita si bisa ketemu langsung sama Teh Lia, ngobrol, sharing, dan menyerap ilmu beliau ya sist…tapi kapan ketemunya? Kita mah apa atuh ya kaan? Mangkanyee, daripada menunggu yang tidak pasti, mendingan baca buku ini. Kita bisa tahu cara berpikir Teh Lia dan bagaimana beliau menyikapi hidup. Siapa tahu ada angin segar merasuk ke dalam jiwa kita yang mulai mengering ini, hihiiii. Siapa tahu juga kita bisa ketularan cantik dan bahagia kaya beliau ya kaaan?

Oya, buku ini nggak cuma buat fans Ibu Atalia kok. Cocok juga buat yang ingin mengembangkan diri dan belajar lebih tentang dunia wanita, menjadi wanita, juga menjadi ibu rumah tangga. Sekilas info nih sist, sebelum menemukan buku ini, saya emang lagi cari buku motivasi agar jadi wanita yang bahagia menjalani hidup. Kebanyakan baca buku bisnis mungkin yaaa, ehehe. Hidup harus seimbang. ^_^

COVER

Sumber:
https://www.getscoop.com/id/buku/89-cara-bahagia-ala-atalia

IDENTITAS BUKU

Judul: 89 Cara Bahagia ala Atalia

Penulis: Atalia Praratya

Penulis Pendamping: Indari Mastuti

Editor: Gita Savitri

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-2714-3

Tanggal Terbit: Juni 2016

Cetakan ke-1

Jumlah halaman: 244

Jenis cover: Soft Cover

Kategori: Inspirasional/Motivasi

Harga: Rp 58.000

MY OPINION

Gaya bahasa Ibu Atalia Kamil dalam buku ini mengesankan karakter beliau yang ramah dan low profile. Teh Lia sering menyapa para pembacanya dengan sebutan “Ibu”. Jadi, walau kita hanya remahan rengginang, jangan malu baca buku ini ya sistaa, hihii. Karena Teh Lia menulis buku ini untuk wanita dari semua kalangan. Tapi maaf, mungkin kurang cocok untuk kalangan feminis ya…. Karena menurut Teh Lia, tugas istri adalah taat kepada suami (selama tidak melanggar hukum dan agama).

Oh ya teh, nggak sengaja saya nemu kata yang perlu dikoreksi lagi di halaman 147. Di situ ada kata “menyeSap”, mungkin maksud Teh Lia “menyeRap” ya?

RATING

SONG

NEW THOUGHTS

Halaman 24

Tak perlu selalu mengatakan cinta untuk membuktikan cinta. Cukup dengan sikap yang membuat suami selalu bersemangat untuk memulai hari, bersemangat mencari rezeki, dan bersemangat untuk selalu bangga pada kita. Berusahalah untuk melayani suami sepenuh hati.

Halaman 30

Kalau ibu cinta pada suami, upayakan meningkatkan pengetahuan ibu tentangnya setiap hari.

Tentang makanan yang disukainya.

Tentang hobinya.

Tentang kebiasaannya sejak kecil.

Semakin ibu mengenal suami, semakin mudah masuk dalam hati dan hidupnya.

Ibaratnya begini, Bu…. Jika setiap hari ibu meningkatkan pengetahuan mengenai suami, pada hari yang sama Ibu bisa memberikan sesuatu yang disukai oleh suami dan meningkatkan rasa cintanya.

***

Oke, setelah hampir 4 tahun menikah, pengetahuan saya tentang suami ada lumayan.

Makanan kesukaan: bakso, tahu, tongkol, sop, masakan berkuah yang ada balungannya (?????%/!?). Kalo yang nggak suka itu pare (karena pait) sama jamur (belum tahu kenapa-nya hehe). Sementara baru itu pengetahuan saya tentang makanan yang nggak disuka sama misua.

Hobi: bermusik/keroncongan. Kalo yang nggak kuat mental, bisa mental loh! Bayangkan…hampir setiap malam latihan, semua waktu tersita untuk musik. Awalnya saya kaget, nangis. Tapi, lama-lama saya juga ikut menikmatinya. Kalo jadwal kosong, saya ngintilin suami. Sampe-sampe saya kenal sama hampir semua temen-temen Mas Canggih, ehehe. Oya sist, sekilas info aja, Mas Canggih dapet duit juga loh, hobi yang menghasilkan ^_^.

Kebiasaan: meletakkan barang se-kena-nya (sembarang tempat). Omeygot pokoke sist, harus ekstra sabar. Tapi, kalo saya mengingatkan baik-baik, Mas Canggih bersedia meletakkannya dengan benar kok. Love U Sayaaaaang…hehe.

Halaman 74

Pernahkan Ibu bercermin dan melihat orang di depan Ibu berbeda? Sepertinya tidak ya, Bu. Apa yang terpantul di cermin akan sama persis dengan diri Ibu. Seperti itulah anak kita, Bu!

Sikapnya bisa jadi sikap kita.

Cara berbicaranya bisa jadi cara kita berbicara.

Sudut pandangnya bisa jadi cara kita memandang sesuatu.

Gerak tubuhnya bisa jadi gerak tubuh kita. 

Anak kita adalah cermin kita, Bu!

Apa yang kita lakukan akan dia tiru.

Apa yang ibunya bicarakan, akan dia duplikasikan.

Jadi, Bu…jangan marah, jangan kesal, jangan lupa juga melemparkan semua kesalahan padanya karena bisa jadi hal yang membuat kesal itu adalah cerminan ibu sendiri. Jika Ibu ingin memperbaiki sikap, karakter, dan kebiasaan anak, mulailah dengan mengubah sikap, karakter, dan kebiasaan Ibu terlebih dahulu.

***

Intinya siih…menjadi pribadi terbaik agar bisa mendidik anak yang terbaik, begitu kan sist? Belajar baca Al-Qur’an biar bisa ngaji bareng sama anak-anak. Belajar teknologi biar bisa nyambung ngobrol sama anak sekaligus bisa mengawasi mereka (media sosial). Belajar berbicara dengan santun (no teriak-teriak) biar anak bisa meneladani cara kita bicara. Dan masih banyak sekali yang bisa kita pelajari. ^_^

Halaman 79

Apabila Ibu tak bisa mengajarkan matematika, Ibu bisa mengajari anak bagaimana menjalankan kehidupan.

Apabila Ibu tak bisa mendampingi anak praktik fisika, Ibu bisa memberi mereka contoh bagaimana mengungkapkan sebuah cinta.

Apabila Ibu tak bisa memantau pelajaran biologi, Ibu bisa mendidik mereka bagaimana mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Ibu adalah madrasah bagi anak.

Anak belajar tentang bagaimana menjalankan kehidupan, bagaimana cara mencintai dengan sesungguhnya, dan bagaimana hidup dengan bahagia adalah dari seorang ibu, bukan sekadar bagaimana jadi pintar di bidang matematika, fisika, atau biologi. Madrasah anak adalah ibu, bukan guru di sekolah.

Ibu adalah orang pertama yang mereka butuhkan di dunia ini, bukan yang lainnya.

Selamat mendampingi mereka ya, Bu….

***

Sekolah sampe sarjana kok cuma jadi ibu rumah tangga? Helloooow…justru itu, menjadi ibu rumah tangga adalah profesi tertinggi dari seorang wanita. Butuh persiapan dan kemampuan tinggi kalo mau sukses mengelola rumah tangga, mendidik anak, serta menjaga hubungan dengan suami dan anggota keluarga lainnya.

Tapi sista…bagi yang pendidikannya sampe sekolah menengah juga dilarang berkecil hati. Ada hal yang lebih penting dari sekedar ngajari matematika, fisika, bahasa inggris, dll…yaitu kemampuan anak menjalani hidup! Jadi, kita harus terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik ya sist…long life education!

Halaman 81

Pernah marah pada anak, Bu?

Saat marah dan kesal karena mereka melakukan suatu kesalahan?

Saat marah dan kesal, tariklah nafas, lalu peluklah buah hati Ibu. Tanyakan kenapa mereka melakukan kesalahan yang membuat hati Ibu berduka.

Katakan padanya kalo itu salah, tapi bukan dengan kemarahan melainkan dengan pelukan. Katakan padanya kalau Ibu merasa itu menyakitkan, tapi bukan dengan kekesalan melainkan dengan tatapan kasih dan sayang.

Katakan sesuatu yang membuat mereka terbimbing melakukan kebenaran dengan cara yang tepat!

***

Setelah baca yang ini, saya berlatih mengendalikan diri saat marah/kecewa: TARIK NAFAS – TATAPAN PENUH KASIH – PELUK – UNGKAPKAN PERASAAN – LEGA. ^_^

Sebelumnya, saya selalu meluapkan kemarahan dengan emosi meledak-ledak, bahkan meraung-raung karena merasa tak dimengerti. Atau sebaliknya, mendadak saya jadi patung es, dingin & diam seribu bahasa dengan muka mendung menjelang hujan. Aaah…kasihan Mas Canggih, capek-capek kerja disuguhi muka kecut. La-Tahzan Nick…La-Tahzan…. Jangan bersedih dan jangan marah okeey?! Karena masalah jadi tambah runyam kalo kita marah. ^_^

Halaman 97

Meski standar bahagia setiap orang berbeda.

Meski kebahagiaan masing-masing orang tidak sama.

Kita semua harus memulainya dengan mensyukuri hal-hal kecil yang kita miliki. Jangan sampai kita hanya merasa bisa bahagia karena hal besar, tapi lupa akan hal-hal kecil sepanjang perjalanan hidup kita.

Hal-hal kecil itulah sebetulnya yang akan mendatangkan bahagia.

***

Syukuri apa yang ada – nikmati – maksimalkan + perbaiki kekurangan yang ada.

Kalo menunggu sesuatu yang belum ada…kapan kita akan bahagia ya kaan?

Jangan terlalu banyak mengeluh say, jangan terlalu banyak menuntut.

Alkhamdulillah Mas Canggih sibuk dengan hal yang positif, bukan sibuk bermaksiat, ehehe.

Alkhamdulillah, Mas Canggih masih mau nganter ke Kebumen meski cuma sebentar karena kesibukan, coba kalo sama sekali nggak mau silaturahmi?

Alkhamdulillah Mas Canggih selalu tanya kabar hari ini, meski nggak sempet ngobrol panjang lebar. Yang penting kualitas kan, bukan kuantitas?

Alkhamdulillah masih tinggal di rumah mertua, bisa nabung dikit-dikit buat nyicil rumah idaman. ^_^

Eeeh…maaf jadi curcol. ^_^ Alkhamdulillah punya temen seperti sista semua yang masih mau dengerin curhatan saya. Love u all….

Halaman 102

Hati ini, Bu. Hati kita ini akan berbunga-bunga setiap kita melakukan kebaikan. Rasa damai, tenang, dan nyaman ranum mengelilingi kita.

Kebaikan itu menenangkan, bahkan mampu melindungi kita. Hari ini jika ibu belum berbuat baik, bersegeralah melakukannya. Kesempatan hidup kita amat terbatas, jangan menunda untuk berbuat baik.

Ini namanya inner beauty ya sist. Jadi, kecantikan itu bukan dari luar saja, tapi juga dari dalam. Buat apa dandan habis-habisan kalo hatinya jelek dan banyak penyakitnya. Ingat sist, kecantikan fisik itu bersifat sementara dan akan sirna dimakan usia. Jadi, percantik karakter kita agar terus bercahaya di  mata suami tercinta.

Halaman 114

Ibu, sesungguhnya sakit hati itu berasal dari dalam diri kita, bukan orang lain. Bahkan jika orang lain mencoba menyakiti kita tapi kita tidak mengizinkannya, kita akan baik-baik saja. Sakit hati datang karena kita mencoba melawan. Sakit hati bersarang karena ego mengembang. 

Kita tak terima dengan perlakuan orang lain yang tak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Padahal, tidak ada satu manusia pun yang bisa diterima di berbagai kalangan.

Jangan pelihara hati berduka karena dapat menghilangkan bahagia. 

Jagalah kelapangan hati ibu untuk menerima apa yang diharapkan maupun yang di luar dugaan.

Dengan kata lain, harus bisa mengendalikan hati kita sendiri, tapi tetap harus ingat, Allah lah yang kuasa membolak-balikkan hati manusia. Yang penting positive thinking ya sist,hadapi semua dengan senyum, insya Allah semua akan baik-baik saja yess? ^_^

Halaman 117

Saya tidak suka berdebat. Menurut saya debat hanya menghabiskan energi. Energi habis hanya untuk membuktikan kita benar. Energi terkuras hanya karena kita ingin menang darinya. Energi hilang karena kita merasa harus di atasnya.

Bahkan meskipun kita benar, debat tidak ada artinya. Yang harus kita lakukan hanya membuktikan. Bahkan jika kita menang, apa untungnya? Hanya membuat orang lain terlihat kecil, lalu buat apa?Bahkan jika kita merasa hebat, apa benar kita hebat? Bukankah hanya satu yang paling hebat, yaitu Allah?

Mengalah dan merendah bukan berarti KALAH, justru keduanya menjadi sumber kekuatan untuk tidak TERKALAHKAN.

Astaghfirulloh, saya sadar betapa keras kepalanya saya selama ini. Kalo Mas Canggih lagi ngomong, saya selalu nggak mau kalah dan ngejawab terus. Bahkan Mas Canggih sering marah gara-gara saya sering memotong pembicaraannya. Padahal seorang istri harus pandai mendengarkan ya teh? Saya janj…semua itu akan menjadi masa lalu, biarlah masa lalu…. Yah, meskipun sulit pastinya, mengalahkan ego.

Halaman 150

Manusia memang suka menilai orang lain. Terkadang penilaiannya bahkan hanya berdasarkan persepsi diri sendiri. Setelah menilai, kita pun berusaha mengubah apa yang kita nilai.

“Harusnya kan, begini….”

“Nggak boleh seperti itu, sebaiknya dia begitu.”

Sebuah contoh penilaian yang berbuah kritik. Bahkan, terkadang kita juga suka menyuruh dan cenderung memaksa orang lain untuk berubah.

Bu, kita harus menghentikan sikap seperti itu! Ibu tentu percaya bahwa setiap orang punya alasan untuk melakukan sesuatu seperti halnya kita, bukan?

Ingat sist, Rasul saja tidak bisa membuat pamannya Abu Thalib masuk  islam, karena memang Allah belum memberi hidayah? Jadi, meskipun Rasulullah sudah berusaha keras, Allah yang kuasa membolak-balikkan hati manusia. Nggak usah sibuk dengan urusan orang lain dan nggak usah baper oke? Yang penting, berusaha menjadi pribadi yang menginspirasi. Ketika orang bertemu atau sekedar melihat kita, maka timbul dorongan dalam dirinya untuk berubah jadi lebih baik. Jadi, kita nggak harus capek-capek ngomong ke mereka, tapi mereka sendiri yang minta masukan ke kita.

Halaman 208

Suami mengucap satu kata, istri membalas seribu kata. Suami salah sekali, istri sengaja membuat kesalahan berulang kali.

Suami curhat lima menit, istri curhat sepanjang hari. Kasihan suami kita ya, Bu.

Memang, perempuan lebih banyak berbicara dibandingkan dengan laki-laki. Hati perempuan juga terlalu sensitif sehingga rasanya semua orang tak boleh salah di hadapannya.

Saat mengemukakan kesalahan istrinya, sang istri punya seribu alasan dan menolak dirinya salah.

Saat suami khilaf, sang istri malah sengaja balas berbuat salah.

Saat suami lelah dan ingin curhat, dia malah harus siap mendengarkan celotehan kita.

Padahal dukungan terbaik untuk suami kita hanyalah dengan mendengarkannya. Dengarkan lelahnya saat di kantor. Simak curhatnya tanpa memotong. Genggam tangan dan tatap matanya dengan sepenuh hati.

Hhh. Cukup! Itu saya bangetd ituu…haha…. Makasih sudah mengingatkan saya loh Teh Lia…! Jujur memang menyakitkan. Ya saya si jadi sadar, betapa kasihannya Mas Canggih dan betapa sabar dia menghadapi aku yang comel ini. Makasih suamiku, mari kita sama-sama berproses menjadi lebih baik .

MOVIE & VIDEO

Belum nemu, ada yang punya referensi?

FAVORITE QUOTE

Teh Lia tidak menyisipkan quote dari tokoh lain.

MY QUOTE

 

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

Leave A Response