Motivasi Belajar Agar Tidak Mudah Menyerah

“Anakku, bila kamu tak tahan lelahnya belajar, maka kamu akan menanggung perihnya kebodohan.”

(Imam Syafi’i)

smk n 1 kutasari

Saya teringat obrolan hangat dengan seorang rekan saat menjadi pengawas ujian nasional SMA/MA tahun 2013. Saya berpasangan dengan bapak guru berumur ± 40 tahun di salah satu ruangan. Sebelumnya, kami belum pernah saling kenal. Sebagai junior (guru baru lulus kuliah), saya hanya mengikuti alur saja. Ternyata tidak terlalu sulit untuk berkomunikasi dengan beliau karena sifatnya yang suka bercerita. Banyak hal yang kami bicarakan, salah satunya tentang kenangan masa kecil bersama sang ayah. Beliau membagi sepotong kisahnya yang begitu menyentuh sanubari terdalam saya dan membekas hingga kini.

“Jadi guru itu enak ya Bu, tinggal duduk manis 1, 5 jam sudah dapat Rp 50.000,00. Apalagi kalau sudah sertifikasi. Mungkin karena itulah anak-anak jaman sekarang banyak yang pengen jadi guru. Kalau dulu, jadi guru itu biasa saja. Lah kalau Bu Menik kenapa tertarik jadi guru?” beliau menyelidik.

“Wah, dari kecil saya memang sudah kepengen jadi guru.” Saya menjawab mantap.

“Ooh, ya bagus kalau begitu. Kan ada guru yang stres menghadapi anak-anak setiap hari. Kalau saya malah sebaliknya. Jadi guru itu menyenangkan. Kerja sambil bercanda sama anak-anak, banyak hiburannya. Kalau di kantoran kan menghadapi benda mati, jenuh.” Saya terus menyimak cerita beliau sambil sesekali tersenyum dan menganggukan kepala.

“Tapi, di rumah saya juga macul Bu. Lihat ini tangan saya, hitam.” beliau menunjukkan permukaan tangannya yang sudah banyak keriput.

“Macul di sawah?”

“Oh iya. Sesekali waktu saya bertani. Waktu kecil dulu, bapak sering mengajak saya macul sama tandur. Kalau sudah capek, saya duduk di galengan. Suatu hari bapak duduk di samping saya ketika sedang istirahat di galengan,

‘Ngopo le, kesel?’

‘Ho oh Pak, ngko tak teruske maneh.’

‘Yo ngene ki nek wong ra ndue kepinteran. Kerjone kesel, duite sitik. Nek pengin kerjone sitik duite okeh…yo kudu dadi wong pinter. Golek ilmu sing okeh!’

Sejak saat itu saya mikir Bu. Bagaimanapun caranya, saya harus jadi orang pinter. Ya saya berterimakasih sekali sama bapak saya. Bapak sudah memberi bekal yang lebih dari sekedar harta. Bekal untuk menjalani hidup yang keras ini. Saya kagum sama bapak saya Bu. Meskipun cuma lulus SD, tapi bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Mungkin saya memang punya darah keturunan seorang pendidik, hahaha….”

***

Kisah lain datang dari Priscilla Sitienei, salah seorang siswa di Leaders Vision Preparatory School, Kenya. Yang istimewa, Priscilla adalah nenek berusia 90 tahun dan berada dalam kelas yang sama dengan tiga cucu dan enam cicitnya. Mereka bersaing untuk menjadi yang terbaik.

“Saya senang akhirnya bisa membaca Al-Kitab. Dengan sekolah, saya ingin menginspirasi anak-anak untuk semangat bersekolah. Banyak anak yang lebih tua tidak sekolah, bahkan ketika mereka akhirnya punya anak.”

“Saya ingin katakan kepada anak-anak di seluruh dunia, terutama anak perempuan, bahwa pendidikan itu menjadi kekayaan. Karena dengan pendidikan, mereka bisa menjadi apapun yang mereka inginkan. Menjadi dokter, pengacara, atau pilot. Tak pernah ada kata terlambat untuk belajar.”

Dari obrolan di atas, kita bisa menyimpulkan peran ayah dalam kehidupan seseorang. Bagaimana peran Ayah dan Bunda dalam kehidupan putra-putri tercinta?

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

Leave A Response