Motivasi Belajar Dari Kisah Ibnu Hajar

Orang-orang dari segala usia sebenarnya dapat belajar apa saja jika mereka melakukannya dengan gaya unik mereka, dengan kekuatan pribadi mereka sendiri.

(Barbara Prashnig)

Sumber: http://4.bp.blogspot.com/-FHNk_J7v6Go/T54WGz3BS5I/AAAAAAAAA9Y/zeHeb00nOUw/s1600/batu+berlubang.jpg

Sumber:
http://4.bp.blogspot.com/-FHNk_J7v6Go/T54WGz3BS5I/AAAAAAAAA9Y/zeHeb00nOUw/s1600/batu+berlubang.jpg

Suatu hari, ada seorang anak paling ‘bodoh’ di kelas. Ia selalu terlambat mengikuti pelajaran. Di saat teman-temannya sudah paham, ia masih bingung, sehingga selalu mendapat nilai terendah. Hari-harinya terasa begitu berat. Ia semakin jauh tertinggal dari teman-temannya. Ia merasa tersisih dan tak berarti. Hingga akhirnya ia memutuskan keluar dari sekolah.

Suatu hari si anak ‘bodoh’ duduk di pinggir sungai sambil merenungi nasibnya. “Malang nian nasibku, menjadi orang bodoh yang tak berguna….” begitu pikirnya. Tak sengaja ia melihat sebuah batu besar berlubang. Lubang itu disebabkan oleh tetesan air yang jatuh di titik yang sama secara terus-menerus. Seiring  berjalannya waktu, titik itu berubah menjadi lubang.

Kejadian itu membuka mata si anak. Jika batu yang keras saja bisa terkikis oleh air, maka otaknya yang ‘berkarat’ pun bisa menjadi tajam jika diasah terus-menerus. Artinya, ia yakin bisa menjadi pintar jika giat belajar tak kenal lelah. Akhirnya, beberapa waktu kemudian si anak ‘bodoh’ menjadi seorang yang cerdas, bahkan melampaui teman-teman dan gurunya. Subhanallah….

***

Anak itu adalah Ibnu Al-Haitanni dengan julukan Ibnu Hajar (Si Anak Batu). Pemberian julukan ini karena perubahan pada diri beliau dimulai sejak melihat peristiwa batu besar berlubang oleh tetesan air. Oya adik-adik, sudah tahu belum siapa Ibnu Hajar? Cari tahu sendiri ya ^_^

Adik-adik, siapa yang selama ini merasa sebagai anak bodoh seperti Si Anak Batu? Mulai sekarang, musnahkanlah perasaan itu. Tahukah kalian bahwa kita adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk Allah lainnya?

Allah telah menjelaskan hal tersebut dalam Al-Qur’án. Ketika Dia memutuskan untuk menciptakan makhluk bernama manusia, malaikat merasa khawatir akan terjadi kerusakan-kerusakan di bumi. Malaikat merasa heran, mengapa Allah menciptakan manusia, padahal malaikat selalu taat dan patuh pada Allah. Malaikat pun menyampaikan kegalauan hatinya, “Apakah Engkau akan menciptakan makhluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di muka bumi? Padahal kami selalu bertasbih pada-Mu?”

Allah menanggapi protes para malaikat tersebut dan menunjukkan alasan di balik keputusan-Nya dengan cara mengajari pengetahuan kepada Adam dan Malaikat. Pertama, Allah meminta malaikat menyebutkan nama-nama benda. Coba tebak, apakah malaikat bisa menjawab dengan benar? Jawabannya adalah…tidak! Sekarang, tiba giliran Adam. Apa yang terjadi? Para malaikat terkejut! Ternyata Adam dapat menyebutkan semua nama benda-benda itu dengan benar dan lancar. Allah pun berfirman, “…dan Kami telah lebihkan mereka (manusia) dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. al-Isra’, 17: 70)

Jadi, yakinkan buah hati kita bahwa mereka adalah anak yang cerdas. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Jika berpikir BISA, maka kita akan benar-benar BISA. Sebaliknya, jika berpikir TIDAK BISA, maka kita TIDAK BISA. Inilah yang disebut dengan sugesti. Rasulullah bersabda, “Aku (Allah) ada dalam persangkaan hamba-Ku atas-Ku” (H.R. Bukhari).

Berfikirlah positif. Berprasangka baik pada diri sendiri. Sugestikan diri bahwa kita adalah MANUSIA CERDAS! Karena sudah jelas, kita adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Bahkan, lebih sempurna dari para malaikat! Allahu Akbar!!!

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

Leave A Response