MATERI MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah): Program dan Cara Belajar Siswa SMK

Seperti biasa, setiap tahun ajaran baru akan muncul wajah-wajah baru siswa kelas X. Wajah yang masih lugu dan masih malu-malu. Kantor pun penuh sesak oleh mereka yang sibuk meminta tanda tangan para guru (kenalan).

Sebagai pembina OSIS, Pak Adi Sutoro, S.Pd. menugaskan saya untuk mengisi materi di ruang 5.

MPLS SMK N 1 Kutasari

Di depan ruang 5 – Sesaat sebelum mengisi materi, bercanda dulu dengan para pengurus OSIS ^_^

Ada 2 materi yang harus saya sampaikan dan pagi tadi tidak ada briefing mengenai hal ini. Artinya, saya harus mencari materi sendiri. It’s okey. Dengan kekuatan hengpon jadul…langsung tanya Mbah Google, hehe. Seeet….nemu juga, langsung menerapkan teknik membaca cepat. Selesai. Di akhir tulisan, ternyata terpampang nyata nama penulis yang tidak lain adalah TRISNO DHIANTORO, S.Pd Waka Kesiswaan SMKKU. Ini nih link-nya http://mossmk2009.blogspot.co.id/2009/07/materi-masa-orientasi-siswa-baru-mos.html

Karena durasinya hanya 45 menit per materi, maka hanya sedikit yang bisa saya sampaikan. Akhirnya, saya dapatkan poin-poin inti materinya, sengaja saya rangkum khusus untuk Anda…semoga bermanfaat ^_^.

 

PROGRAM DAN CARA BELAJAR SISWA SMK

Belajar adalah usaha untuk memperoleh kepandaian atau ilmu pengetahuan.

Belajar dikatakan berhasil jika ada perubahan tingkah laku ke arah perbaikan.

Prinsip-prinsip belajar, antara lain:

  1. Motivasi belajar. Ada 2 yaitu: intern (contohnya cita-cita) dan ekstern (contohnya disuruh orang tua). Misalnya (saya mencontohkan dua siswa yang ngobrol sendiri ketika saya bicara): Imam bercita-cita ingin menjadi mekanik handal, sehingga ia masuk SMK N 1 Kutasari dan memilih kompetensi keahlian TSM (Teknik Sepeda Motor). Ketika ada tugas praktek dari guru, Imam menyelesaikannya dengan penuh semangat agar bisa menjadi mekanik handal yang ia cita-citakan. Mari kita bandingkan dengan Garda yang masuk TSM SMK N 1 Kutasari tanpa cita-cita. Ketika ada tugas praktek, ia malas menyelesaikan karena tidak ada keinginan untuk bisa. Bagaimana jika motivasi Garda berangkat ke sekolah karena takut dimarahi orangtua? Hampir sama dengan siswa yang tidak punya motivasi ya…yang penting mengikuti pelajaran, tidak ada semangat, tidak ada gairah.
  2. Fokus. Hindari hal-hal yang dapat menghambat proses belajar, misalnya patah hati. Yang ini kelewatan, belum saya sampaikan di kelas. Yaah, saya kan bukan malaikat apalagi bidadari. Hanya manusia biasa tempatnya salah dan lupa, right? Tapi akan tetap saya jelaskan di sini. Misalnya, Jeni sedang menyelesaikan latihan soal matematika. Tiba-tiba handphone bersuara karena ada chating dari beberapa temannya. Maka, Jeni pun membalas chat tersebut. Lalu, Jenimelanjutkan latihan soal lagi, chating lagi, demikian seterusnya. Coba bayangkan, kira-kira Jeni bisa menyelesaikan latihan soalnya tidak? Ada beberapa kemungkinan. Mungkin selesai, tapi asal selesai alias belum tentu benar (sekedarnya saja, tidak diresapi).
  3. Memahami dulu, baru menghafal. Kalau sekedar menghafal mungkin hanya butuh waktu sepuluh menit, tapi satu jam kemudian sudah lupa. Sedangkan kalau memahami dulu baru menghafal, mungkin butuh waktu lebih lama (misal 1 jam), tapi kita akan mengingatnya sampai sebulan kemudian, bahkan lebih. Kita juga bisa membuat singkatan unik biar mudah mengingat. Waktu SD, guru saya membuat singkatan MEJIKUHIBINIU dari 7 warna pelangi, yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nilai, ungu. Guru Anda juga khan? Hihii. Dan saya masih hafal sampai sekarang.
  4. Yakin. Percaya bahwa apa yang kita pelajari berguna untuk kehidupan. Jika saat ini masih ada beberapa pelajaran yang menurut kita tidak penting, maka ubahlah pemikiran ini. Yakinkan bahwa semua mata pelajaran pasti bermanfaat untuk kehidupan, entah itu sekarang atau yang akan datang. Sejurus kemudian, saya pun bercerita pengalaman dipanggil ke ruang BK karena mendapat nilai 4 untuk mapel tata boga. Saya dipanggil karena biasanya selalu dapat 100 atau 9 atau paling rendah 8. Belum pernah saya mendapat nilai di bawah 7. Sekilas info, waktu itu saya kelas 2 SMP dan mendapat rangking 1. BK mengira saya sedang ada masalah, entah itu masalah pribadi, keluarga, atau lainnya. Saya pun mengaku bahwa saya merasa mapel tata boga itu tidak penting! (Ya…maafkan aku yang dulu, masih sombong dan arogan. Yang penting sekarang sudah tidak begitu ya kan?!). Dan ternyata…justru apa yang diajarkan oleh guru tata boga waktu itu, masih saya gunakan sampai sekarang. Yaitu membedakan telur mateng dan telur mentah (nggak mungkin kan kita pecah telurnya hanya untuk mengetahui mateng/mentah?). Caranya adalah dengan memutar telur tersebut. Kalo bisa muter berarti mateng, kalo nggak bisa berarti mentah. Itu hanya salah satu. Masih banyak ilmu boga lainnya yang saya terapkan sampe sekarang. Yang jelas, sekarang saya menyesal karena sebagai istri dan ibu rumah tangga, ternyata saya sangat membutuhkan ilmu boga. Jadi ya, jangan heran sampe sekarang saya belum juga pinter masak (nyesek).

Cara belajar di sekolah:

  1. Terbuka, menerima guru apa adanya. Jangan terlalu banyak menuntut. Seperti saya waktu SMA. Saya pergi ke ruang BK dan meminta agar guru bahasa inggris yang mengajar di kelas saya diganti dengan guru lain. Dengan alasan, volume suara guru tersebut sangar lirih ketika mengajar. Sehingga, hanya siswa yang duduk paling depan saja yang bisa mendengar. Memang usianya sudah sangat sepuh dan hampir pensiun. Tapi, waktu itu saya tidak mau tahu. Guru BK pun menyarankan agar saya mencari cara agar tetap mengikuti pelajaran dengan baik. Misalnya, dengan selangkah lebih maju. Mempelajari materi yang akan dipelajari esok hari dan menanyakan kepada guru tersebut jika ada yang belum paham, kalo cuma berdua (tidak di kelas) pasti bisa dengar suaranya kan?). Nah, di kelas tinggal mengulang saja.
  2. Mempelajari dan menyiapkan pelajaran untuk esok hari. Dengan kata lain, di kelas hanya untuk mengulang atau menanyakan bagian-bagian yang belum paham. Jangan datang ke sekolah dengan pikiran kosong melompong okeey? Hihiiii.
  3. Kritis. Kritis dalam kebaikan yaa….
  4. Jangan malu bertanya jika belum paham. Kalian akan mendapat poin plus dar guru  jika berani bertanya. Tapi ingat, pertanyaannya yang logis yaa…jangan bertanya dengan niat menjatuhkan,
  5. Mengulang kembali pelajaran di sekolah ketika sudah di rumah. Ini agar ilmu-ilmu yang ada di otak kita tidak mengendap begitu saja. Dan ketika saatnya ulangan, kita tidak harus belajar semalam suntuk (SKS), tapi hanya tinggal membaca atau mengingat kembali, simple dan ringan kan?

Cara belajar di rumah:

  1. Rutin. Lebih baik sedikit asal berkesinambungan karena lebih membekas di otak. Daripada banyak tapi semalaman suntuk, karena sifatnya hanya sementara.
  2. Tetapkan waktu. Misalnya, setelah shalat tahajjud. Awalnya butuh sedikit pemaksaan, tapi lama-lama akan menjadi kebiasaan. Tanpa menyetel alarm, otomatis kalian terbangun di jam yang sama. Mau? Buruan dicoba dari sekarang!
  3. Pilih tempat yang nyaman. Kalo memang sudah punya meja belajar sendiri, ya tata serapi dan se-nyaman mungkin sesuai selera kamu ya.

 

Cara belajar kelompok:

Siswa yang belum paham bisa meminta penjelasan kepada teman yang sudah paham (lebih nyaman dibanding dengan guru). Sedangkan siswa yang sudah paham jadi semakin paham. Jangan lupa tetapkan ketua, serta pertimbangkan jarak rumah dan jumlah anggota-nya ya.

Yang terakhir, yaitu mengenai waktu. Waktu sangatlah penting. “Time is time”, “Waktu adalah waktu”. Waktunya makan ya makan, waktunya belajar ya belajar, waktunya istirahat ya istirahat. Gunakan waktu luang dengan baik. Demi masa, jika hari ini sama dengan hari kemarin, maka kita tergolong manusia yang rugi. Jika hari ini lebih buruk dari kemarin, maka kita tergolong manusia celaka. Dan jika hari ini lebih baik dari kemarin, maka kita termasuk orang yang beruntung. Wallahu a’lam bishawab.

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

Leave A Response