RESENSI BUKU “Bukan Sekadar Mengajar” Karya Mulyono

Bukan Sekadar Mengajar

Bukan Sekadar Mengajar

RECOMEND
Tentu saja untuk semua guru yang ingin terus berproses menjadi lebih baik…. Untuk guru yang tak mau menjadi robot…. Untuk guru yang tidak sekedar mentransfer ilmu…. Untuk guru yang tak hanya memberi target nilai…. Untuk guru yang ingin menikmati pekerjaannya…. Yang ingin merobohkan kejenuhan karena rutinitas….

Untuk guru yang ingin adanya interaksi emosi dalam proses pembelajarannya…. Untuk guru yang ingin menjadi kenangan manis bagi siswanya di kemudian hari…. Untuk guru yang ingin menularkan energi positif bagi sekelilingnya….

Cobalah buku ini!

COVER

Cover depan

Cover depan

 

Cover belakang

Cover belakang

IDENTITAS BUKU
Judul: Bukan Sekadar Mengajar
Penulis: Mulyono
Editor: Ma’mun
Penerbit: Real Books
ISBN: 978 602 6210 30 2
Tanggal Terbit: Januari 2017
Cetakan ke-1
Jumlah halaman: 160
Jenis cover: soft cover
Kategori: Pendidikan
Harga: Rp 37.000,00

MY OPINION
Secara keseluruhan, saya mendapat banyak inspirasi dan ide-ide kreatif dari buku ini. Saya bisa merasakan semangat mengajar penulis melalui goresan-goresan penanya. Dan saya bersyukur bisa sedikit menyerap ilmu dari seorang Guru Peraih Juara dalam Lomba Media Pembelajaran Interaktif dan Juara Lomba Kreativitas Guru Nasional. Meskipun ada sedikit koreksi di halaman 78, menurut saya tidak mengurangi inspirasi dan ilmu yang terangkum dalam buku ini.

Koreksi? Ya, koreksi. Ada kalimat yang menurut saya perlu dirapikan sedikit. Lebih tepatnya dipangkas karena kelebihan kata.

Buku Bukan Sekadar Mengajar

Terlihat di foto tersebut, kata “untuk” dan “agar” pada alinea pertama baris ke-8 ditulis secara berurutan. Padahal keduanya memiliki arti yang sama. Jika salah satu dihilangkan, maka itu tidak akan mengubah arti dari kalimat tersebut ya kan?

SONG

NEW THOUGHTS
Halaman 71
Pertanyaan yang digunakan dalam pembelajaran di Australia untuk membangun logika siswa:
“Apa yang sudah saya lihat?”
“Apa yang sudah saya dengar?”
“Apa yang sudah saya lakukan?”
“Apa yang akan saya tanyakan sekarang?”
Logika siswa pun terbangun saat guru mengaitkan jawaban dari pertanyaan sebelumnya, lalu siswa diwajibkan membuat pertanyaan baru tentang, “Apa yang ingin mereka ketahui?”
***
Sebelumnya, saya sudah membaca beberapa buku tentang pembelajaran. Bukan hanya satu dua saja, lumayan banyak loh! Tapi ketika membaca pertanyaan-pertanyaan ini, kok seperti kesetrum ya?! Hehe, maaf lebay dikit. Semacam dapat asupan energi baru gitu loh sist. Kalo di film2 kartun tuh muncul lampu terang di atas kepala.
Semoga ke depannya saya bisa mengajar lebih KREATIF, INSPIRATIF, & REKREATIF ya kaan?
Halaman 76
Dengan tema utama yang telah disampaikan, selanjutnya muncul pertanyaan, “Apa kiranya tujuan dari pembelajaran kita?” yang biasa disampaikan guru di awal pembelajaran. Pertanyaan ini dilontarkan kepada siswa, agar siswa juga ikur berfikir dengan logika mereka, bahkan berandai-andai dengan tujuan yang bisa dicapai setelah belajar bab ini. Sehingga siswa terkesan lebih dihargai karena ikut diajak berfikir bersama.
***
Terdengar sepele dan sering kita lupakan ya? Semacam sesuatu yang tidak penting. Saya sendiri juga jarang menyampaikan tujuan di awal pembelajaran kok sist, biasanya langsung to the point. Saya tahu kalo harusnya tidak seperti itu. Ada beberapa proses yang harus kita lakukan sebelum masuk materi inti. Yah…yang sudah berlalu ya sudah, tak perlu disesali, tapi jadikan bahan evaluasi aja yess?
Halaman 88
Abad 21 sekarang ini berbeda dengan masa di mana kita belajar dulu. Tantangan tentu lebih berat, kompleks, dan penuh kompetisi. Untuk menjawab tantangan di abad ini, siswa perlu menguasai empat kemampuan dasar (Four Cs), yakni creativity (kreativitas), critical thinking (kemampuan berfikir kritis), communication skill (kemampuan berkomunikasi), dan collaboration (kemampuan bekerjasama).
***
Sebelum ngajari siswa, maka kita juga harus melatih diri sendiri lebih dulu, setuju ngggih Bapak/Ibu?
Halaman 93
Sejak 2015 lalu, Kemdikbud meluncurkan program Belajar Bersama Maestro (BBM), untuk mengisi liburan bagi siswa SMA/SMK. Bukan teknisnya yang ditekankan, akan tetapi interaksi dan inspirasi dari maestro itu yang jauh lebih berharga. Karena dengan begitu, siswa akan lebih mantap dan senang menjalaninya (rekreatif), dan terinspirasi untuk menjadi ahli di bidangnga. Itulah yang akan membuat siswa ingin terus belajar (adiktif).
***
Dari buku inilah, saya memantapkan semboyan saya sebagai guru, yaitu: KREATIF, INSPIRATIF, & REKREATIF yang rencananya akan selalu saya promosikan di setiap kesempatan, hahaaaaaa.
Oya, itu ada satu kata lagi tuh…ADIKTIF! Adiktif yaitu bersifat ngangenin, bikin kecanduan, bikin ketergantungan. Adiktif di sini jelas dalam arti positif yaah…yaitu ketergantungan belajar. Jadi, pengennya belajaaar teruus…eyyymmmm? Kikikik. Loh kok ketawa? Ya, maap.
Halaman 94
Beberapa langkah untuk mewujudkan pembelajaran yang lebih kreatif dan rekreatif.
Pertama, lakukan review RPP. Membuat catatan atau coretan-coretan dari RPP pada pembelajaran lalu, tentu akan membuat langkah pembelajaran lebih terarah. Mengevaluasi kekurangan-kekurangan, serta menggantinya dengan langkah yang lebih kreatif, tentu akan membuat siswa senang belajar.
Kedua, pembelajaran akan lebih rekreatif bagi siswa, jika kita melibatkan siswa dalam perencanaan. Sebab, siswalah yang membuat kesepakatan dengan mereka, kegiatan belajar mengajar (KBM) nantinya akan lebih menyenangkan bagi kedua belah pihak. Guru mantap dalam mentransfer ilmu, siswa pun senang dan enjoy menyerapnya.
Ketiga, menggunakan media pembelajaran yang inovatif dan kreatif. Kata “menggunakan” di sini tidak harus berarti menciptakan media sendiri, tapi bisa memanfaatkan media yang telah diciptakan orang lain. Mengutip kata-kata Albert Einstein, bahwa kreatif itu mampu menggabungkan segala sesuatu yang telah ada, menjadi segala sesuatu yang belum pernah ada.
Keempat, ingat kesan kreatif dan rekreatif harus kita tekankan, agar siswa mudah dalam menerima pembelajaran. Dan ending-nya mereka akan menjadi pembelajar sejati yang selalu kecanduan belajar.
***
Dari dulu saya sudah niat banget: kalo ngajar harus pegang RPP-nya sambil dievaluasi mana yang perlu diperbaiki, mana yang bisa dipertahankan (dicorat-coret coret). Setalah itu, RPP-nya kita edit lagi sesuai coretannya, utk kemudian kita pakai pada pembelajaran berikutnya.
Dengan begitu, semakin hari cara mengajar kita semakin menarik dan berkualitas yakan?
Halaman 110
Kita perlu membangun branding pada diri kita sendiri (self branding), sehingga siapa kita, apa anggapan orang tentang kita, bagaimana orang menilai kita, hingga apa yang orang lain kenal tentang diri kita (inisiasi), perlu kita ciptakan dan publikasikan.
***
Kalo ini saya cocok. MENGINSPIRASI. Buat orang lain tertular energi positif ketika bertemu atau sekedar mengingat kita saja.

MOVIE & VIDEO
FAVORITE QUOTE
Halaman 36
Jika Anda tidak bisa menjelaskan secara sederhana, maka Anda belum mengerti sepenuhnya. (Albert Einstein)
***
Sama seperti saya, ketika mengajar siswa di kelas, saya selalu berusaha memilih kalimat yang se-sederhana mungkin agar siswa bisa memahaminya dengan mudah.
Halaman 40
Teko akan mengeluarkan benda yang ada di dalamnnya. Jika teko itu berisi kopi, ia akan mengeluarkan kopi, dan tidak mungkin mengeluarkan teh. Begitu juga dengan fitnah yang kita terima. Kita tidak perlu melakukan kejelekan untuk membalasnya, kalau memang diri kita baik. Sebab jika kita melakukannya, justru bisa menunjukkan bahwa kita mengiyakan tuduhan itu. Sekali lagi, walaupun kita punya hak untuk membalas dengan keburukan yang sama, namun Rasulullah mengajarkan untuk membalas kejahatan (min) dengan kebaikan ( (plus), atau saya katakan tadi, balaslah air tuba dengan air susu. (Teori isi teko AA Gym)
***
Aduuh…sepertinya penulis buku ini sehati ya, sama saya. Saya itu paling nggak bisa kalo disuruh marah. Kalo disuruh akting (pura pura) marah, saya memang jago. Tapi, kalo harus marah beneran? Sampe sekarang belum bisa. Itu bisa dibilang kelemahan nggak sih? Karena sebagai guru kadang saya merasa kurang tegas yakan? Tapi, ya sudahlah…saya pake teori isi teko AA Gym saja sebagai pembelaan. Hihiii.
MY QUOTE
Mengajar tanpa kreativitas itu ibarat rumah tanpa perabot dan hiasan…m e m b o s a n k a n! (Nick, Oktober 2017)

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

Leave A Response