Aku, Kamu, dan FLP

up grading flp

“Loh Bu, njenengan ikut FLP ya? Waaah hebat bangeet! Berarti njenengan pinter nulis?”

Salah seorang rekan kerja bernama Bu Dini membuka lebar matanya ketika melihat jaket yang saya kenakan. Bukan karena ia kagum dengan model atau kualitas jaketnya, tapi karena sederet tulisan yang terpampang nyata di bagian punggung atas ‘MENGGAPAI TAQWA DENGAN TINTA’ dan juga di lengan kanan atas ‘FLP YOGYAKARTA‘.

“Amiin, aku hobi nulis Bu, makanya ikut FLP.”
Saya berusaha merendah. Mengaku tidak punya ambisi apapun terhadap organisasi kepenulisan itu. Kenyataannya? Sungguh mengerikan! Saya punya banyak mimpi dan mimpi itu masih ada hingga sekarang. Bahkan, saya yakin bisa membahagiakan bapak mamak hanya dengan menulis dan menjadi anggota FLP! Tapi itu dulu, waktu saya masih kuliah. Yah, kalian tahu sendiri, darah muda penuh dengan obsesi.

“Tapi mesti njenengan juga pinter nulis kan? Buktinya diterima jadi anggota FLP!”

“Memangnya kalo anggota FLP itu sudah pasti pinter nulis Bu? ”

“Iya lah! Waktu kuliah, aku punya temen yg ikut FLP. Subhanallah pokoknya Bu, dia pinter banget nulis. Karya-karyanya sering dimuat koran! Dia juga sering menang lomba. Kayaknya nulis itu gampang banget. Padahal, nulis satu alinea aja aku nggak bisa, hahaha…! ”

“Waah hebat ya temene Bu Dini.”

“Lah, Bu Menik sudah pernah menang lomba apa aja? Sudah nulis buku?”
Hmm…ini nih, pertanyaan bikes (bikin kesel) akhirnya datang juga #eaak ^_^

“Alkhamdulillah Bu, adalah beberapa.” Saya pura-pura rendah hati lagi. Tapi sebenernya saya tidak terlalu pede membeberkan riwayat prestasi kepenulisan yang pernah saya raih. Biarlah dia menerka-nerka sendiri betapa berprestasinya akooh…hihiii.

“Aku ikut FLP kan karena seneng nulis Bu Dini, aku nggak punya target menang lomba. Yang penting itu…nulis, nulis, dan nulis. ”
Saya memasang wajah dramatis.

“Oh gitu….” Entah heran atau takjub, saya tidak bisa menafsirkan ekspresi wajah Bu Dini. “Berarti setiap hari nulis?” Lanjut Bu Dini seolah tak percaya.

“Aku berusaha nulis setiap hari Bu. Soale nulis itu bikin sehat. Seperti mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Makanya, banyak orang merasa lega setelah menulis, nulis di buku harian misalnya.”

“Apa iya? Nulis bisa bikin kita sehat?”

“Iya donh, itu hasil penelitian loh, jadi Bu Dini harus percaya!”

“Baru tahu aku….”

“Nggak cuma itu Bu Dini, nulis juga bisa bikin awet muda! Buktinya nih, awet muda kan akuuh?” Pasang muka narsis.

“Iya iya…. Muka njenengan emang kelihatan masih anak SMA, muride njenengan malah yang kelihatan lebih tua, hahaa.”

“Masa sih, bisa aja….” #MelayangSetinggiLangit #Kemudian TerjatuhLagi #SetelahMelihatCermin

“Eh, berarti Bu Menik punya buku diary ya?”

“Punya Bu, dari SD aku udah punya buku diary.”

“SD udah mulai nulis?!”

“Iya, buku diarynya udah banyak tuh, tek simpen sama tek gembok juga. Tapi, lupa kuncinya nggak tahu dimana, hahaaa. Udah lama banget soalnya.”

“Pake digembok segala siih, lagian anak SD punya rahasia apa emang?! Yang sekarang nggak digembok kan?”

“Kalo yang sekarang si aku cuma pake username sama password. Dan semua orang bisa baca tulisanku kapanpun, di mana pun.”

“Loh, kok bisa?”

“Karena diary-ku diary online alias blog.”

“Waw, keren banget Bu Menik sudah punya blog, alamatnya apa bu?”

“menikyunihartini.com”

“Hebat banget koh njenengan, diary jaman now ini mah. Guru jaman now! Saya buka sekarang ya Bu, penasaran!”

“Monggo, silakan Bu…. Aduuh, aku jd malu inih.” #modus

Kemudian hening sesaat. Bu Dini sibuk melihat-lihat, kemudian menge-klik ‘Tentang Saya’

“Ini foto bapak ibune njenengan Bu?”

“Iya, foto 6 tahun yang lalu waktu wisuda.” Suasana menjadi hening sesaat karena saya teringat almarhum bapak yang sudah meninggal sekitar satu tahun lalu.

“Njenengan sedih ya Bu, maaf ya aku ngga bermaksud….”

“Nggak papa kok Bu Dini. Aku cuma ngerasa belum membahagiakan bapak sepenuhnya.”

“Yang penting njenengan selalu mendoakan setiap habis shalat.”

“Aku inget banget Bu Dini, bapak nguliahin aku dengan susah payah, memeras keringat dan darah ibarate. Sampe akhirnya aku lulus dan menyandang gelar Sarjana Pendidikan. Bapak datang di wisudaku Bu Dini, menyaksikan anaknya pake toga, mendengar MC menyebut ‘Menik Yuni Hartini Sarjana Pendidikan putri dari Bapak Djayusman.’ Maklum Bu Dini, aku anak terakhir dari empat bersaudara dan satu-satunya yang melanjutkan kuliah.”

“Ya Allah…Bu Menik….” Mata Bu Dini terlihat basah.

“Setelah wisuda, aku sempet sedih Bu. Sedih karena ada suara yang nggak enak didengar. Setelah aku wisuda, ada yang bilang, ‘Jaman siki sarjana wis akeh. Golet kerja angel nek ora ana sing nglantarna. Siki akeh sarjana pada nganggur. (Jaman sekarang sarjana sudah banyak. Cari kerja susah kalo nggak ada yang bantu. Sekarang banyak sarjana nganggur)’. Aku ngga punya sodara yang jadi guru atau kepala sekolah atau karyawan di sekolah si Bu. Jadi bener-bener harus usaha sendiri.”

“Emang iya Bu…. Setelah wisuda tinggal mikir cari kerja. Tiap ketemu orang pasti pertanyaannya sama, ‘Udah kerja apa belum? Di mana?’ Padahal kita pengen istirahat dulu bentar ya, oalaaah.”

“Kalo aku si nggak masalah Bu, nggak tek pikir lah orang mau ngomong apa. Masalahnya orang tua Bu, kan jadi beban buat mereka. Meskipun di depanku biasa aja, tapi pasti mereka sedih kan?”

“Iya Bu, tapi kan sekarang Bu Menik udah jadi guru?”

“Alkhamdulillah Bu, setelah perjuangan ke sana ke mari. Aku bener-bener nyebar surat lamaran ke semua sekolah Bu.”

“Haaah?! Semua sekolah??!” Bu Dini yang tadi sendu, kini memelototkan matanya.

“Iya, semua sekolah tapi cuma SMP sama SMA. Pokoke yang penting kerja, ngajar di sekolah, punya status bu guru, di mana aja nggak masalah. Demi orang tua, demi bapak biar bisa jawab pertanyaan orang ‘Menik udah kerja apa belum?’ Jadi saya semangat Bu, mengajukan lamaran ke semua sekolah se-Kabupaten Kebumen.”

“Terus gimana hasilnya?”

“Allah Maha Kuasa Bu. Kalo ada anak ingin membahagiakan orang tua, insya Allah dimudahkan. Saya diterima jadi guru berkat FLP loh Bu! Eh…berkat Allah lewat perantara FLP maksudnya.”

“Bisane??!”

“Waktu daftar di salah satu sekolah swasta, kebetulan aku langsung ketemu sama kepala TU-nya namanya Pak Djawahir. Setelah baca-baca berkas lamaranku, beliau langsung nawarin aku ngajar di sekolah baru, katanya lagi butuh guru buat persiapan ujian nasional. Kalo mau, aku disuruh datang langsung ke sana menemui kepala sekolah, insya Allah langsung diterima atas rekomendasi Pak Djawahir selaku Komite Sekolah.”

“Njenengan langsung mau ya Bu?! Ya iyalah, lagi pengen banget kerja malah ditawari, ya jelas mau ya Bu Menik. Tapi masa gampang banget? Ngga ada tes seleksinya?”

“Makanya Bu, aku kan penasaran ya Bu Dini, masa segampang itu. Aku beranikan diri tanya kenapa Pak Djawahir mau merekomendasikan aku ngajar di sekolah baru itu.”

“Terus apa jawabannya?”

“Karena aku anggota FLP.”

“Emang kenapa kalo anggota FLP? Apa hubungannya sama Pak Djawahir? Emang Pak Djawahir suka nulis juga? Bukane beliau udah tua ya? Hehee….”

“Bukan Pak Djawahir Bu, tapi anaknya. Anaknya kan sekolah di sana. Katanya biar nanti aq bisa ngajari dia, gitu lo Bu. Paling enggak ya sharing sharing gitu lah.”

“Oh gitu…tapi masa sih cuma karena njenengan anggota FLP?”

“Kalo aku anggota FLP kan otomatis punya teman-teman penulis, bahasa kerennya punya jaringan luas di dunia kepenulisan. Jadi kalo mau ngadain event tentang kepenulisan di sekolah, udah nggak bingung lagi, ya kan?”

“Tapi karena njenengan punya banyak prestasi menulis juga kan Bu, makanya Pak Djawahir yakin sama njenengan.”

“Amiin….” Saya hanya tersenyum kecil.

“Terus gimana kabar anaknya Pak Djawahir sekarang Bu?”

“Udah lama nggak kontak, semenjak dia lulus dan aku pindah ke Purbalingga. Terakhir denger kabar dia kuliah di IAIN Jogja. Dan langsung terkenal di kampus karena menang lomba nulis cerita waktu MOS. Dia chat aku lewat Facebook, bilang makasih karena sudah menginspirasi untuk tetap nulis. Aku terharu Bu. Pak Djawahir juga pasti bangga banget, sama kayak bapakku yang juga bangga karena aku udah jadi guru.”

“Setelah nikah njenengan langsung keluar terus ikut suami ke Purbalingga Bu?”

“Iya, kalo enggak ya aku nggak ketemu Bu Dini di sini, di SMK N 1 Kutasari.”

“Tapi njenengan masuk sini bukan karena FLP kan? Kita kan diseleksi ketat. Ada tes tertulis, psikotes, wawancara, microteaching….”

“Iya sih, namanya juga sekolah negeri pasti banyak peminatnya, saingannya juga lebih berat. Tapi, waktu wawancara kan ada pertanyaan gimana cara kita mengenalkan atau mempromosikan sekolah ke masyarakat luas ya, Bu Dini jawab apa?”

“Mmm…apa ya, aku lupa malah, hahaaa.” Bu Dini emang orangnya pelupa gaes!

“Bu Dini mau tahu nggak aku jawab apa?”

“Apa?”

“Lewat artikel-artikel yang aku tulis di blog! nggak cuma masyarakat Kutasari, seluruh Purbalingga, Indonesia, bahkan dunia juga bisa mengenal SMK N 1 Kutasari melalui menikyunihartini.com!” Jawab saya mantap.

Terimakasih FLP, telah menemaniku menggapai mimpi, membantuku membahagiakan orang tua. Sering aku merindukan saat masih aktif di FLP Jogja waktu masih kuliah dulu. Tapi, bukankah sekarang ada @bloggerflp? #ayeaye

 

Kisah inspiratif ini saya persembahkan untuk Almarhum Bapak Djayusman & Bapak Djawahir.

Purbalingga, 14 Februari 2018
#miladflp21 #kisahinspiratifFLP

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

1 Comment on this article. Feel free to join this conversation.

  1. Deka A. Retnowati Februari 15, 2018 pukul 6:54 am - Reply

    Teruslah menyebarkan aura positif kesekitarmu dan Menginspirasi banyak orang…

Leave A Response