MATERI KEWIRAUSAHAAN SMK KELAS XII “Menjalankan Usaha Kecil”

A. Pendahuluan

Tahap-tahap penting dalam siklus hidup usaha atau daur hidup produk (product life cycle/PLC):

1. Tahap Perkenalan (Introduction)

Terjadi pertumbuhan penjualan yang lambat karena produk baru diperkenalkan ke pasar. Laba belum dapat menutup biaya overhead dari keseluruhan usaha. Sehingga wirausaha harus mempersiapkan modal yang tidak terduga dan kesabaran yang tinggi, serta komitmen yang kuat untuk menumbuhkannya.

2. Tahap Pertumbuhan (Growth)

Biaya overhead mampu ditutup oleh laba dan tingkat penjualan yang mulai meningkat cepat. Wirausaha harus mampu berhemat (saving the profit) dan menggunakan laba dengan tepat guna.

3. Tahap Mapan (Mature)

Laba dan tingkat penjualan tinggi. Wirausaha harus membuat kreasi/inovasi agar tidak terjadi penurunan usaha.

4. Tahap Penurunan (Decline)

Tahapan ini paling berbahaya karena tingkat pertumbuhan laba dan penjualan mulai menurun. Wirausahawan dapat melakukan peluncuran produk baru atau re-positioning produk baru.

B. Mengelola Bahan dan Fasilitas

1. Mengelola Bahan

Persediaan barang dalam jumlah besar mengandung banyak risiko, seperti:

a. Hilang dan rusak

b. Biaya pemeliharaan dan pengawasan tinggi

c. Usang

d. Uang yang tertanam di persediaan terlalu besar

Jenis usaha yang memproduksi barang (manufaktur), biasanya memiliki tiga jenis persediaan bahan baku yang dihitung berdasarkan tingkat perputarannya, yaitu:

a. Bahan baku (raw material), yaitu bahan yang akan digunakan dalam proses produksi.

b. Barang dalam proses (material in process), yaitu barang-barang yang belum selesai dalam proses produksi

c. Barang jadi (finished goods), yaitu barang yang telah menyelesaikan proses produksi, tapi belum dijual atau didistribusikan kepada konsumen.

2. Layout Fasilitas Produksi

Adalah pengaturan dan penempatan mesin, peralatan, gedung, dan kegiatan-kegiatan di dalam produksi. Pengaturan layout pabrik yang baik akan menghasilkan produktivitas yang tinggi, serta mengeluarkan biaya yang rendah.

Pelaksanaan tata letak mesin ada 3, yaitu:

a. Layout by product

  • Pengaturan mesin-mesin sesuai dengan arus proses produksi.
  • Lebih sesuai dengan proses produksi terus-menerus/produksi barang standar.
  • Dianggap lebih ekonomis dan produk lebih cepat dihasilkan.
  • Paling banyak digunakan di perusahaan perakitan, seperti mobil, sepeda motor, TV, dan lainnya.
  • Penyusunan layout ini harus dipertimbangkan karena membutuhkan biaya besar. Jika terjadi perubahan desain produk, layout menjadi usang sehingga perlu disusun kembali.

b. Layout by process/functional layout/job layout

  • Mesin diatur menurut fungsinya ke dalam grup/bagian.
  • Mesin-mesin yang mempunyai fungsi sama ditempatkan pada tempat tertentu. Misalnya: mesin potong metal di bagian potong, mesin bubut di bagian pembubutan, mesin bor di bagian pengeboran, dan sebagainya.
  • Sering digunakan dalam industri atau manufaktur berdasarkan pesanan (job lot manufacture) karena dapat disesuaikan dengan kondisi pesanannya, seperti variasi bentuk, jumlah, komponen, maupun desainnya.
  • Syarat utama dalam layout ini adalah urutan pengerjaannya, desain, suku cadang, komponen dan volume.

c. Layout by stationary

  • Biasanya digunakan dalam kegiatan yang mempunyai bagian besar atau assembly
  • Operator dan peralatan/perlengkapannya didekatkan kepada bahan baku.
  • Contoh: mesin pencetak beton dalam pembuatan gedung bertingkat, jembatan, dan sebagainya

C. Mengelola Sumber Daya Manusia

Kreativitas, ketahanan fisik, kekuatan pikiran, dan nilai tambah (value added) dari karyawan tidaklah cukup untuk membuat sebuah usaha berkembang. Ada dua hal yang harus diketahui oleh wirausahawan dalam memberdayakan karyawannya, yaitu kemauan dan kemampuan bekerja di bidangnya. Ada 4 kondisi karyawan yang perlu diidentifikasi oleh wirausahawan:

No Kondisi Karyawan Identifikasi Tindakan Wirausahawan
1 Enrich (Promote) Mampu dan mau bekerja (termotivasi Memperlebar tanggung jawab pekerjaan dengan penambahan tunjangan, promosi jabatan, dan memberikan tantangan baru.
2 Trained and Equipped Mau bekerja (termotivasi), tapi belum mampu mengerjakannya Mensurvei apakah ia suka dan cocok di pekerjaan tersebut. Jika tidak, maka dapat dipindahkan. Jika menyukai pekerjaan tersebut, maka berilah pelatihan (training), dan lengkapi dirinya dengan keterampilan.
3 Move or Motivated Mampu bekerja, tapi tidak termotivasi Melakukan diskusi, survei, dan tanya jawab tentang kecocokan dirinya dengan jenis pekerjaan tersebut. Jika tidak cocok, mungkin gaji tidak sesuai dengan beban kerjanya. Jika cocok, lakukan evaluasi beban pekerjaan dan mungkin dapat ditingkatkan posisinya dan berilah tantangan yang lebih besar.
4 Fired Tidak mau bekerja dan tidak mampu bekerja Cari tahu alasan ia tidak termotivasi. Jika tidak bisa dimotivasi, berarti ia sudah tidak berkontribusi lagi bagi usaha kita. Jika masih dapat dimotivasi, cobalah tantangan baru dalam waktu tiga bulan. Jika ternyata ia terus termotivasi, pantau dengan hingga makin berkembang. Namun, jika tetap tidak termotivasi, jangan dipaksa dan biarkan ia mencari pekerjaan baru.

D. Mengelola Proses Produksi

Produksi adalah penciptaan atau penambahan faedah, bentuk, waktu, dan tempat atas faktor-faktor produksi, sehingga lebih bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan manusia.

1. Tipe Proses Produksi

a. Proses Produksi Terus-menerus (Continuous)

Adalah proses produksi barang atas dasar aliran produk dari satu operasi ke operasi berikutnya tanpa penumpukkan di suatu titik. Biasanya urutan proses produksinya selalu sama, sehingga letak mesin-mesin disesuaikan agar berjalan lancar dan efisien. Industri yang cocok dengan tipe ini adalah yang memiliki karakteristik:

1) Output direncanakan dalam jumlah besar

2) Variasi atau jenis produk yang dihasilkan rendah

3) Produk bersifat standar.

b. Proses Produksi Terputus-putus (Intermitten)

Produk diproses dalam kumpulan produk, bukan atas dasar aliran terus-menerus. Peralatan produksi disusun lebih fleksibel untuk menghasilkan berbagai produk dengan berbagai ukuran. Perusahaan yang menggunakan tipe ini biasanya yang mengerjakan bermacam-macam barang dengan jumlah setiap macam hanya sedikit.

c. Proses Produksi Campuran

Merupakan penggabungan dari proses produksi terus-menerus dan terputus-putus.

2. Sifat-sifat Produk

a. Produk Satuan

Pembuatan suatu barang yang dibuat secara khusus. Misalnya “butik” yang hanya membuat satu model baju saja, atau karena pesanan.

b. Produk Massa

Pembuatan barang dalam jumlah partai besar, biasanya diproduksi untuk kepentingan umum. Misalnya, produk tepung terigu, beras, gula, garam, dan sebagainya.

c. Produk seri

Ada 2 macam:

  • Satuan seri → produk satuan yang diproduksi dalam satu seri produk yang sama.
  • Massa seri → produksi massa, tetapi berseri. Contoh: TV, motor, mobil.

d. Produk pesanan

Kegiatan produksi dilakukan berdasarkan pesanan (job lot) dari pelanggan.

3. Perencanaan Produksi

Terdapat dua prosedur, yaitu perencanaan produksi berdasarkan permintaan pasar dan berdasarkan order/pesanan.

No Perbedaan Permintaan Pasar Order/Pesanan
1 Tujuan Memenuhi kebutuhan pasar Melayani pesanan
2 Jenis Produk Standar, usia produk panjang Beragam
3 Jumlah permintaan Banyak Tidak tentu
4 Perencanaan Didahului dengan membuat perkiraan permintaan, kemudian rencana persediaan barang jadi, dan rencana jumlah produksi. Sulit dibuat perkiraan permintaan. Oleh karena itu, fasilitas produksi harus fleksibel, penyediaan bahan baku dan pembantu berdasarkan rata-rata kebutuhan pada tahun-tahun sebelumnya.

4. Pengendalian Produksi

Merupakan serangkaian prosedur yang bertujuan untuk mengoordinasi semua elemen proses produksi (pekerja, mesin, peralatan, dan material) ke dalam suatu aliran. Pengendalian produksi meliputi beberapa tahap, yaitu:

a. Planning

Apabila pesanan pembeli atau pesanan untuk persediaan telah diterima oleh bagian perencanaan produksi, pesanan tersebut dapat dipecah-pecah dalam beberapa bagian.

b. Routing

Adalah usaha untuk menentukan urutan dari proses dan alat yang digunakan dalam proses produksi. Sebelum produksi dimulai, urutan tersebut disusun terlebih dahulu dalam route sheet.

c. Scheduling

Adalah usaha untuk menentukan kapan produksi akan dimulai dan selesai untuk diserahkan. Scheduling ini harus dibuat sebelum produk dimulai dalam bentuk master schedule yang kemudian dipecah-pecah ke dalam banyak schedule.

d. Dispatching

Yaitu surat perintah yang berisi wewenang untuk melakukan kegiatan produksi. Dispatching dibuat sebelum produksi dimulai dalam bentuk dispatch sheet.

Pada proses produksi terus-menerus (continuous), routing ditetapkan lebih dulu (kemudian scheduling dan dispatching) karena routing ditetapkan pada saat perusahaan didirikan, dan untuk jangka waktu yang relatif lama.

Sedangkan pada proses terputus-putus (intermitten), scheduling ditetapkan lebih dulu (kemudian routing dan dispatching)  karena barang yang dihasilkan tidak sama (baik jenis, kualitas, maupun penyerahannya), sehingga pengaturan waktu merupakan hal yang utama.

E. Mengelola Keuangan

Ada 3 jenis modal yang harus dikelola dengan baik dan bijaksana.

1. Modal Investasi Awal

Merupakan jenis modal yang harus dikeluarkan pada awal dimulainya usaha, biasanya digunakan untuk jangka panjang, seperti kendaraan, komputer, dan peralatan kantor. Modal ini nilainya cukup besar dan nilainya akan menyusut dari tahun ke tahun. Sehingga, harus dirawat dengan rutin agar berumur panjang. Contoh:

  • Modal untuk membuka salon kecantikan adalah pengering rambut, rol rambut, dan sampo.
  • Modal untuk membuka toko ritel adalah rak, meja, dan mesin kasir.

2. Modal Kerja

Merupakan modal yang harus dikeluarkan untuk membeli atau membuat barang yang akan dijual ke pelanggan. Contoh:

  • Modal untuk usaha restoran adalah bahan-bahan makanan.
  • Modal untuk membuka jasa fotokopi adalah kertas, tinta, dan sebagainya.

3. Modal Operasional

Adalah modal yang harus dikeluarkan untuk membayar biaya operasi bulanan atau pos-pos biaya di luar usahanya secara langsung, seperti gaji karyawan, PLN, air, bahkan retribusi.

F. Memasarkan Produk/Jasa

Menurut Kotler dalam bukunya Prinsip-prinsip Pemasaran, definisi pemasaran adalah proses dimana perusahaan menciptakan nilai bagi pelanggan dan membangun hubungan yang kuat dengan pelanggan dengan tujuan untuk menangkap nilai dari pelanggan sebagai imbalannya.

1. Fungsi Pemasaran

a. Pembelian

Memilih barang-barang yang dibeli untuk dijual kembali atau untuk digunakan dalam perusahaan. Fungsi ini sangat penting untuk perusahaan yang terkait dengan mode dan corak, sehingga membutuhkan keahlian dalam menganalisis barang dan menentukan persediaan barang.

b. Penjualan

Merupakan bagian terpenting dalam pemasaran guna mencapai pasar yang dituju.

c. Penyimpanan

Menyimpan barang-barang yang selesai diproduksi sampai pada saat barang siap dijual. Alasan dilakukannya penyimpan:

1) Kepentingan spekulasi, yaitu membeli dan menimbun barang-barang untuk dijual pada saat harga jualnya naik.

2) Pembelian dalam jumlah besar, untuk mendapat potongan harga, biaya angkut per unit lebih rendah, mengatasi keterlambatan penyerahan barang, dan untuk pengawetan atau pematangan (seperti tembakau dan mangga).

3) Produksi bersifat musiman, sedangkan konsumsi bersifat terus-menerus. Dengan melakukan penyimpanan, maka konsumsi bisa dilakukan sepanjang tahun, meskipun tanpa proses produksi.

4) Menstabilkan harga, yaitu dengan membeli dan menimbun barang-barang pada waktu barang berlimpah, sehingga harga jualnya rendah, selanjutnya menjual pada saat kekurangan barang di pasar.

5) Konsumsi bersifat musiman, sedangkan produksi terus-menerus sepanjang tahun, seperti payung dan jas hujan.

d. Pembelanjaan

Untuk mendapatkan modal dari sumber eksternal guna menyelenggarakan kegiatan pemasaran. Sumber eksternal dapat berupa kredit dagang dari penjual dan pinjaman jangka pendek dari bank.

e. Pengangkutan

Untuk memindahkan barang dari produsen ke konsumen.

f. Penanggungan Risiko

Meliputi segala bentuk risiko, yaitu risiko yang ditimbulkan oleh:

  • Pasar, seperti merosotnya harga jual yang disebabkan oleh perubahan tren, adanya penemuan baru, persaingan usaha, dan pengaruh musim.
  • Alam, seperti banjir dan gempa bumi.
  • Manusia, seperti pencurian, pembeli yang tidak membayar utang, dan kebakaran.

g. Standarisasi/Normalisasi dan Grading

Standarisasi adalah penentuan batas-batas dasar dalam bentuk spesifikasi barang-barang hasil manufaktur. Grading adalah usaha untuk mengelompokkan barang berdasarkan standar kualitas yang telah mendapat pengakuan di dunia perdagangan.

h. Pengumpulan Informasi Pasar

Pemasaran perlu mengumpulkan data mengenai jenis-jenis produk yang beredar di pasar, jenis dan jumlah yang dibutuhkan konsumen, daya beli konsumen, preferensi konsumen, jumlah konsumen, serta lokasi tempat tinggal konsumen.

2. Strategi Pemasaran

Adalah pola keputusan dalam perusahaan yang menentukan sasaran, maksud, atau tujuan guna menghasilkan kebijakan utama dan merencanakan pencapaian tujuan serta merinci jangkauan bisnis yang akan dicapai oleh perusahaan. Untuk membuat strategi pemasaran, wirausaha perlu memerhatikan beberapa variabel, antara lain:

a. Variabel yang dapat dikendalikan

1) Segmentasi pasar

Agar lebih fokus dalam melayani konsumennya, wirausaha harus mengelompokkan konsumen ke dalam siri/sifat yang sama. Kelompok konsumen yang telah disusun dinamakan segmen pasar. Sedangkan proses pengelompokkannya dinamakan segmentasi pasar. Contoh pengelompokkan konsumen berdasarkan:

a) Karakteristik demografis: jenis kelamin dan tingkat pendidikan.

b) Geografis: lokasi tempat tinggal konsumen, seperti kota dan provinsi.

c) Perilaku: tingkat pemakaian produk dan kesetiaan terhadap produk.

d) Psikografis: gaya hidup.

2) Timing

Timing berhubungan dengan waktu, misalnya kapan perusahaan harus meluncurkan suatu produk, ataupun kapan suatu restoran dibuka?

3) Market budget

Besarnya jumlah anggaran belanja pemasaran, tergantung dari barang yang akan dipasarkan.

4) Bauran pemasaran (marketing mix)

Merupakan kombinasi empat variabel/kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan, yaitu produk (product), struktur harga (price), tempat (place), dan promosi (promotion).

b. Variabel yang tidak dapat dikendalikan

1) Perubahan demografi

2) Sumber daya alam

3) Perkembangan teknologi

4) Kebijakan politik dan ekonomi pemerintah

5) Keadaan persaingan

3. Bentuk-bentuk Komunikasi Dalam Dunia Usaha

a. Secara Formal

1) Seminar ➡️ adalah sebuah pertemuan khusus dengan tujuan mempelajari topik tertentu dan memecahkan suatu permasalahan yang dibantu oleh cendikiawan.

2) Penataran ➡️ semacam pemberian arahan atau latihan kepada sekelompok orang untuk melakukan tugas tertentu.
Misal : penataran dokter kecil, penataran anggota OSIS, penataran guru, dll.

3) Pelatihan ➡️ adalah proses pendidikan jangka pendek yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan teknis karyawan.

b. Secara Nonformal

1) Obrolan bisnis pada waktu perpisahan, arisan, dan sebagainya.

2) Acara kekeluargaan yang diteruskan dengan pembicaraan bisnis.

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

Leave A Response