Materi Produk Kreatif dan Kewirausahaan SMK Kelas XI “Aspek Produksi Dalam Pengelolaan Usaha”

A. Jenis Produk Barang/Jasa

1. Produk Berwujud (Tangible)

Berdasarkan tujuan pemakaiannya, jenis produk berwujud ada 4 macam.

a. Shopping goods adalah barang yang memerlukan pertimbangan kualitas, harga, gaya kemasan, dan jenis. Contohnya: TV, jam tangan, kulkas, permata, dan sebagainya.

b. Convinience goods adalah barang konsumsi yang sifatnya mudah dicari bila diperlukan setiap saat dan tersedia di toko/warung terdekat. Contoh: eskrim, rokok, sabun, gula, permen.

c. Speciality goods adalah barang yang memerlukan pelayanan khusus dan tersedia di tempat tertentu. Contoh: mobil mewah, jam tangan mewah, permata.

d. Unsought goods adalah barang yang tidak dicari dan pemasarannya dengan mendatangi konsumen. Contoh: ensiklopedia.

2. Produk Tidak Berwujud (Intangible)

Produk tidak berwujud biasanya berupa jasa. Contohnya jasa laundry, cuci mobil, antar jemput sekolah, bimbingan belajar, travel, penerjemah, dan lainnya. Sektor jasa memiliki empat karakteristik:

a. Tak berwujud (intangible). Jasa tidak bisa dilihat, didengar, dan dirasakan sebelum jasa itu dibeli. Contoh: jasa pemijatan.

b. Tak terpisahkan (inseparable). Hubungan antara produsen dan konsumen tidak dapat dipisahkan. Misalnya, dalam suatu kursus bahasa asing, orang yang mengikuti kursus sebagai konsumen sedangkan instruktur sebagai produsen. Hasil kursus (cepat bisa atau tidak) tergantung pada kedua belah pihak.

c. Berubah-ubah (variable). Kualitas jasa yang diberikan berbeda-beda tiap tempat usaha, meskipun jenis jasa yang diberikan sama. Misalnya, hasil cuci mobil di tempat yang satu berbeda dengan tempat yang lain, dalam hal tingkat kebersihan dan kerapiannya.

d. Dapat musnah (perishable). Jasa tidak bisa disimpan untuk dijual pada waktu berikutnya. Misalnya, tempat duduk untuk pesawat. Jika ada kursi yang kosong, maka pesawat tetap berangkat dan kursi itu tidak bisa dijual untuk penerbangan berikutnya.

B. Pengelolaan Persediaan

Persediaan adalah sejumlah barang jadi, bahan baku, ataupun barang dalam proses yang dimiliki perusahaan dengan tujuan untuk dijual atau diproses lebih lanjut. Pengelolaan persediaan adalah suatu tindakan seorang pengusaha untuk menjaga agar persediaan barang tetap stabil sesuai rencana. Stabil artinya jangan sampai kekurangan dan kelebihan. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengelolaan persediaan barang antara lain:

1. Sistem Pencatatan

a. Perpetual System (Terus-menerus)

Dalam sistem ini diperlukan adanya pencatatan yang terus menerus mengikuti perubahan atas persediaan dari awal periode hingga akhir periode akuntansi. Pembelian dan penjualan (pengeluaran) barang dicatat secara langsung di rekening persediaan pada saat terjadinya transaksi. Setiap saat dapat diketahui besarnya nilai atau harga pokok barang yang terjual serta jumlah persediaan barang dagangan di akhir periode akuntansi. Sistem ini cocok digunakan perusahaan yang menjual barang dagangan dengan nilai tinggi misal TV, mobil.

b. Periodic System (Periodik)

Penghitungan dilakukan secara fisik (stock opname) di gudang tempat menyimpan barang pada akhir periode. Karena barang dagangan banyak, harga pokok relatif kecil. Pembelian atau penjualan barang dagangan dicatat dalam rekening pembelian/penjualan tanpa mencatat harga pokok barang yang terjual tersebut. Sistem ini cocok digunakan oleh perusahaan kecil yang barang dagangannya relatif murah dan transaksi sering terjadi, contoh: Indomart, Alfamart.

2. Metode Pencatatan

a. First-in, First-out (FIFO)

Barang yang pertama kali dibeli digunakan untuk menentukan harga pokok barang yang terjual. Atau, barang yang pertama kali dibeli, dikeluarkan (dijual) lebih dulu. Alasan menggunakan metode FIFO adalah barang dagangan cenderung tidak tahan lama.

b. Last-in, First-out (LIFO)

Barang yang terakhir masuk, barang itulah yang lebih dulu dikeluarkan. Alasan menggunakan metode LIFO antara lain:

1) Barang dagangan akan mengalami kenaikan harga di masa mendatang.

2) Untuk mengurangi biaya penyimpanan.

3) Meningkatkan saldo persediaan barang dagang.

c. Average Cost (AC)

Barang-barang yang dikeluarkan dicatat berdasarkan rata-ratanya.

3. Contoh Pencatatan Persediaan Menggunakan Metode FIFO, LIFO, dan AC

Bahan baku pada PT Berkah Abadi selama dua minggu pertama bulan Juni 2016 adalah sebagai berikut.

01 Juni, persediaan 8.000 kg @ Rp 1.000,00

09 Juni, pembelian 12.000 kg @ Rp 1.200,00

17 Juni, masuk proses produksi 15.000 kg

Hitunglah harga pokok bahan baku yang dipakai dalam proses produksi pada tanggal 17 Juni yang harus dicatat dengan menggunakan metode FIFO, LIFO, dan AC!

a. Metode FIFO

8.000 kg @ Rp 1.000,00       = Rp 8.000.000,00

7.000 kg @ Rp 1.200,00       = Rp 8.400.000,00

15.000 kg                                  = Rp 8.000.000,00 + Rp 8.400.000,00 = Rp 16.400.000,00

Jadi, bahan baku yang dipakai dalam proses produksi, yang harus dicatat sebesar Rp 16.400.000,00.

b. Metode LIFO

12.000 kg @ Rp 1.200,00     = Rp 14.400.000,00

3.000 kg @ Rp 1.000,00     = Rp   3.000.000,00

15.000 kg                                  = Rp 14.400.000,00 + Rp 3.000.000,00 = Rp 17.400.000,00

Jadi, bahan baku yang harus dicatat dalam proses produksi sebesar Rp 17.400.000,00.

c. Metode AC

8.000 kg @ Rp 1.000,00       = Rp   8.000.000,00

12.000 kg @ Rp 1.200,00     = Rp 14.400.000,00

20.000 kg                              = Rp   8.000.000,00 + Rp 14.400.000,00 = Rp 22.400.000,00

Harga pokok rata-rata tiap kg = Rp 22.400.000,00 : Rp 20.000,00 = Rp 1.120,00

Harga pokok bahan baku yang dipakai dalam proses produksi (15.000 kg) = 15.000 x Rp 1.120,00 = Rp 16.800.000,00.

Jadi, bahan baku yang harus dicatat dalam proses produksi adalah Rp 16.800.000,00.

C. Perencanaan Proses Produksi

1. Prosedur Persiapan

Sebelum menentukan produk apa yang akan dibuat, wirausahawan perlu menimba gagasan dari para konsumen dan mengajak rekan bisnis/karyawan untuk berpartisipasi memikirkan produk yang akan diproduksi.

2. Penyaringan Gagasan

Setelah banyak menemukan gagasan yang bagus dari konsumen, ditambah sumbangan pikiran dari para rekan bisnis/karyawan, maka wirausahawan harus menyaring dan memilih gagasan yang baik.

3. Analisis Gagasan

Analisis gagasan dilakukan untuk mengetahui:

a. Potensi permintaan terhadap produk

b. Jumlah omset penjualan

c. Kemampuan produk yang mendatangkan laba

4. Percobaan Produk

Mewujudkan gagasan ke dalam tindakan konkret, yaitu menciptakan produk sesuai gagasan. Produk itu harus bisa dipertanggungjawabkan, baik secara teknis maupun komersial.

5. Uji Coba Produk

Meneliti kelemahan produk yang telah dibuat, kesalahan dalam pembuatan (bila ada), cacat tidaknya, dan bermanfaat tidaknya produk yang dibuat.

6. Komersialisasi

Memperkenalkan produk yang telah diproduksi kepada para konsumen. Dalam tahap ini, wirausahawan berusaha agar produknya diterima oleh konsumen dengan cara pemberian merek, membuat kemasan produk semenarik mungkin, melakukan promosi dan pendistribusian.

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

Leave A Response