Materi Produk Kreatif dan Kewirausahaan SMK Kelas XI “Penetapan Harga Jual dan BEP”

A. Kebijakan Penetapan Harga

1. Kebijakan Harga Konsumen

a. Shining Price. Menetapkan harga setinggi mungkin karena perusahaan belum memiliki saingan dan produk dipasarkan untuk orang kaya.

b. Penetration Price.Menetapkan harga serendah mungkin untuk masuk ke pasar dengan menerobos produk perusahaan lain.

2. Kebijakan Harga Grosir

Memberikan potongan harga karena pembayaran tunai atau karena pembelian dalam jumlah besar.

3. Kebijakan Harga Retailer

a. Margin Price. Menetapkan harga berdasarkan perkiraan saja. Kalau sudah untung, barang dijual. Kebijakan ini sering dilakukan oleh pedagang kaki lima.

b. Lining Price. Menetapkan harga yang sama pada barang yang sejenis dari berbagai merk. Kebijakan ini sering dilakukan oleh toko yang menjual baju kaos, sepatu, dan sandal. Contoh, kaos dari berbagai merek dan ukuran ditumpuk dalam satu kotak dan diberi daftar harga yang sama.

c. Competitor Price.Menetapkan harga produk yang murah agar memperoleh reputasi sebagai took termurah.

d. Judgement Price.Menetapkan harga berdasarkan perkiraan. Dalam satu lusin, di dalamnya ada satu atau dua potong produk yang bagus.

e. Customary Price.Apabila harga bahan baku meningkat, maka harga pokok produknya juga akan meningkat.

f. Ood Price. Menetapkan harga ganjil untuk menarik pembeli. Misalnya, harga produk Rp 19.775,00 atau Rp 14.335,00. Kebijakan ini biasanya dilakukan oleh supermarket.

g. Combination Price. Menetapkan harga dengan cara penawaran berkombinasi antara dua jenis barang, misalnya penawaran shampoo dengan sisir, sepatu dengan kaos kaki, dan sebagainya.

B. Metode Penetapan Harga

1. Harga Biaya Plus (Cost Plus Pricing)

Contoh soal:

Biaya produksi 100 barang adalah biaya bahan baku Rp 3.000.000,00 biaya tenaga kerja Rp 550.000,00 biaya lain-lain (sewa, gaji pimpinan, penyusutan peralatan) Rp 450.000,00. Berapakah harga barang per unit jika keuntungan yang diinginkan 20% dari total biaya?

Jawab:

Rp 3.000.000,00 + Rp 550.000,00 + Rp 450.000,00 = Rp 4.000.000,00

Rp 4.000.000,00 + (20% x Rp 4.000.000,00) = Rp 4.800.000,00

Harga satuan Rp 4.800.000,00 : 100 = Rp 48.000,00

Jadi, harga barang per unit adalah Rp 48.000,00.

2. Harga Mark Up (Mark Up Pricing)

Harga jual = harga beli + mark up.

Besarnya mark up adalah keseluruhan biaya operasi dan keuntungan yang diinginkan.

Contoh soal:

Harga beli barang dagangan Rp 5.500.000,00 biaya pengelolaan dan penjualan Rp 150.000,00. Berapakah harga barang per unit jika keuntungan yang diharapkan Rp 450.000,00?

Jawab:

Rp 5.500.00,00 + (Rp 150.000,00 + Rp 450.000,00) = Rp 6.100.000,00

Jadi, harga barang per unit adalah Rp 6.100.000,00.

C. Titik Pulang Pokok (TPP)/Break Even Point (BEP)

BEP adalah titik keseimbangan antara jumlah hasil penjualan dengan jumlah biaya produksi.

Rumus menghitung BEP:

BEP (Q) = FC : (P-VC)

Keterangan:

BEP (Q)          = jumlah unit produk yang dihasilkan/dijual

FC                   = Fixed cost/biaya tetap

VC                  = Variable cost/biaya variable

P                      = Price per unit/harga jual per unit

Contoh soal:

PT Amanah memproduksi kaos kaki dengan biaya tetap Rp 36.000.000,00 biaya variabel Rp 4.000,00/unit dan harga jual Rp 10.000/unit. Hitunglah BEP-nya!

Jawab:

BEP = 36.000.000 : (10.000 – 4.000) = 6.000 unit

Jadi, untuk menutup biaya sebesar R 36.000.000,00 PT Amanah harus dapat menjual kaos kaki minimal 6.000 unit.

 

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

1 Comment on this article. Feel free to join this conversation.

  1. Tuwarno Yahya Oktober 23, 2018 pukul 3:34 am - Reply

    Saya menjadi paham untuk tata cara melakukan penetapan harga

Leave A Response