Family Tree

Canggih Family

Kepala keluarga: Ayah Canggih
Foto jaman masih alay, masih nakal katanya (sekarang udah nggak nakal katanya, udah jadi pak guru wkwk)

Foto jaman masih langsing, masih alay, & masih nakal katanya (sekarang udah nggak nakal, udah jadi pak guru wkwk)

Karakter Mas Canggih adalah perpaduan dari bapak dan ibunya. Kalau dari bapak, Mas Canggih dapat sifat romantis, setia, dan darah seni yang mengalir sampai sekarang. Sisanya…full dari ibu. Yang pasti, Mas Canggih adalah tipe suami pekerja keras dan bertanggung jawab. Ya, tentu tidak ada manusia sempurna. Selain kelebihannya itu, Mas Canggih juga punya logika yang sangat kuat. Saking kuatnya, kadang perasaan saya sebagai wanita tak bisa mengimbangi. Tapi saya sadar, di sinilah kami bisa saling melengkapi. Dan bukankah ini karakter alami laki-laki dan wanita?

Mas Canggih adalah putra sulung dari Bapak Sabarudin dan Ibu Kartiningrum.

a. Almarhum Bapak Sabarudin (Bpk. Sabar)

Sesuai dengan namanya, beliau adalah sosok yang sangat penyabar, penyayang, romantis, dan setia. Itu menurut cerita keluarga besar Mas Canggih. Karena waktu kami menikah, almarhum sudah tidak ada. Meskipun belum pernah bertemu, tapi lewat perantara beliau-lah saya dan Mas Canggih menjadi suami istri. Terimakasih Bapak, kau percayakan putramu yang romantis itu, hihiii….

b. Ibu Kartiningrum (Bu Ningrum)

mertua

Berbeda dengan almarhum bapak Sabar, Ibu Kartiningrum adalah sosok wanita yang kuat, berani, disiplin, tegas, perfeksionis, dan tidak suka suasana bising! Segala sesuatu harus berjalan sempurna di mata beliau. Begitu pula ketika mendidik anak-anaknya, beliau selalu menanamkan kedisiplinan dan cenderung keras dalam hal kebaikan. Misalnya, shalat harus tepat waktu, meletakkan barang harus sesuai tempatnya, wajib sarapan pagi, dan banyak lainnya.

Jika ada yang berjalan tak semestinya, ibu tak ragu menegur secara langsung, termasuk dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan (sekilas info: ibu adalah ketua Rw sekaligus guru olahraga SMP). Namun, di balik ketegasannya itu, ibu adalah sosok yang penyayang, dermawan, dan…sangat lugu! Terhadap anak-anaknya boleh keras, tapi kalau sama menantu lain lagi…super duper baik (saya bingung mau menyebut dengan istilah apa)! Tidak percaya? Buktikan saja sendiri ^_^.

c. Sabrina Purbaningrum (De Nana)

Eeiiitss, masih ada satu lagi pemirsa…. Bapak Sabar sudah, Ibu Ningrum sudah. Tinggal si bungsu adik Mas Canggih satu-satunya: De Nana yang saat ini masih duduk di bangku kuliah Poltekes Semarang cabang Purwokerto. De Nana itu adik yang lucu. Walau sudah kuliah, tapi percayalah, si dia masih seperti anak-anak tingkahnya. Kekanak-kanakan di sini bukan dalam arti negatif lo ya…tapi lebih kepada lucu dan menggemaskan. Ibarat kata, buat saya De Nana itu bagai angin sepoi di tengah Mas Canggih dan Ibu yang sama-sama keras (ups….!).

De Nana

Manajer keluarga: Bunda Menik

Menik Yuni Hartini

Kata teman-teman, saya orangnya supel, rajin, ulet, setia, penyayang, sensitif, wkwk….(sudah ya, segitu saja ^_^). Saya adalah putri bungsu dari 4 bersaudara, Bapak bernama Djayusman (Almarhum) dan Mamak Robingah.

a. Almarhum Bapak Djayusman (lahir tahun 1945, konon katanya)

Bapak

Bapak sudah lansia, seperti yang orang-orang bilang, bapak kembali seperti anak kecil yang harus didampingi. Karena pendengaran, penglihatan, dan pemahamannya sudah tidak berfungsi dengan baik. Inilah saatnya berganti peran, saatnya saya yang selalu siap siaga untuk bapak, meski tak bisa setiap saat bertemu….

Dan sekitar 4 tahun setelah saya menikah (tepatnya tanggal 22 Maret 2018), Bapak ikut menyusul Bapak Sabar menghadap Allah. Saat itu adalah saat paling memilukan yang pernah saya rasakan. Bapak meninggalkan kami di usia 70 tahun. Bahkan saat kami pergi bersama, orang mengira saya cucunya ^_^

Baca: Menyikapi Kematian Bapak

Bapak seorang pensiunan PNS Pegawai Puskesmas (jaman dulu masih gampang jadi PNS). Waktu bapak masih agak muda, waktu saya masih kecil, bapak sering mengajak jalan-jalan. Mulai dari beli bebek ke pasar yang entah di desa apa, menunjukkan rumah teman-temannya (cuma lewat), ke kantor tempat bapak kerja (sempat kenalan sama anak dokternya dan main bareng ^_^), sampai jalan-jalan tanpa tujuan. Bapak hanya memberi tahu saya nama-nama desa yang dilewati…… Allahu Akbar…! Sangat berkesan hari-hari saya waktu itu. Pokoknya, ke manapun saya ingin pergi, bapak selalu siap siaga!

Sifat bapak yang paling khas adalah, paling enggak terima kalo anaknya disakiti atau direndahkan oleh orang lain. Dan bapak suka sekali membanggakan anaknya, menganggap anaknya yang nomor satu, nggak ada yang menandingi! Makanya, kalo anaknya punya prestasi, bapak langsung heboh. Yah, setiap orang tua punya keunikan, kelebihan, dan kekurangan masing-masing kan….?

b. Mamak Robingah (lahir tahun 1952)

Menik Yuni Hartini

Mamak adalah sosok yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Belum pernah saya bertemu dengan orang yang seperti dia. Mamak selalu ada 100% untuk saya, baik secara lahir maupun batin. Tidak pernah meminta, tidak pernah mengungkapkan kekecewaan, dan paling tak bisa melihat saya sedih.

Saat-saat terberat adalah ketika saya menikah. Saat itu tanggung jawab atas diri saya pindah ke tangan Mas Canggih. Sungguh kerinduan ini tak pernah usai untukmu mak…. Begitu mendalam perasaan saya, hingga tak mampu lagi mengungkapkannya dengan kata-kata. Lewat doa di setiap sujudku: semoga Allah memberkahi umur & rezeki mamak, selalu sehat, dan bahagia dunia akhirat, amiin.

c. Kakak Pertama: Mas Imam

(Istri pertama: Alm. Mba Nun, anak: Firda. Istri kedua: Mba Titik, anak: Wildan)

Keluarga Mas Imam

Keluarga Mas Imam

Mas Imam sudah seperti bapak ke-2. Dan memang kalau kami pergi bersama, orang-orang mengira saya adalah anaknya. Mungkin karena jarak umur kami yang cukup jauh. Saya lahir tahun 1989, Mas Imam 1971.

Saya selalu ingat waktu SMA, setiap hari antar-jemput bak putri raja. Tak cukup sampai di situ, pernah suatu hari waktu liburan kuliah berakhir, rasanya berat berangkat ke Jogja. Dan pahlawan pun datang… Mas Imam datang dengan kuda putihnya, mengantar saya ke Jogja sampe kos (naik motor!). Dan yang lebih berkesan, waktu semester akhir, Mas Imam menemani saya mengurus surat ijin penelitian ke Semarang, dan juga keliling SMA+MA se-Kabupaten Kebumen! Karena objek penelitian skripsi saya adalah semua Kepala Sekolah SMA+MA se-Kabupaten Kebumen.

Giliran wisuda, Mas Imam juga yang mengangkut mamak-bapak, mbak, mas, ipar, keponakan2, semuanya! Sampai saya menikah Mas Imam juga yang memboyong keluarga & tetangga2 ke Purbalingga. Pokoknya, Mas Imam itu superhero! ^_^

d. Kakak Ke-2: Mba Numi
(suami: Mas Budi, anak ke-1: Icha, anak ke-2: Nabila)
Keluarga Mba Numi

Keluarga Mba Numi

Mba Numi adalah satu-satunya kakak perempuan saya. Dia bukan hanya seperti sosok ibu ke-2, tapi juga sahabat tempat saya curhat. Kalau ada hal-hal yang tidak bisa saya ceritakan ke orangtua, Mas Imam, Mas Tono, atau yang lain, maka saya pasti lari ke Mba Numi. Termasuk ketika pertama saya dapat surat cinta waktu kelas 5 SD ^_^. Endingnya, semua keluarga akhirnya tahu, saya pun diledek habis-habisan sama Mas Imam dan Mas Tono (mereka juga yang menyimpan suratnya sampai sekarang, tapi tidak pernah saya tanyakan sih, nggak penting juga ^_^).

Mba Numi selalu setia nemenin saya beli-beli barang kebutuhan ala remaja. Ada cerita tentang barang kebutuhan ala remaja nih. Waktu kuliah kan saya hidup priatin alias ngirit. Di saat teman-teman pake tas gahoel bermerek sampai yang branded, saya cukup bersyukur dengan tas model anak SMA. Sampe akhirnya Mba Numi trenyuh, main ke jogja, dan mengajak saya ke toko tas ternama “Elizabeth”, tahu kan ya? Itu lo, tas yang terkenal harganya selangit!

Bukan hanya Mba Numi, sang suami juga tak kalah baik. Semua kebaikan Mba Numi juga atas ijinnya. Mas Budi juga pernah membelikan saya sepatu pantofel warna hitam. Karena waktu itu saya KKN-PPL, katanya tidak pantas pakai sepatu karet anti air. Tahu kan ya, yang harganya murah itu? Kebetulan saya punya warna cokelat. Meskipun murah, tapi awet bingits! Sampai tidak pernah ganti bertahun-tahun saking awetnya ^_^ Makasih banyak untuk perhatiannya, saaaaaayang sama Mba Numi & Mas Budi…!

e. Mas Tono (single happy, haha…)

Ada sejuta cerita kalau membicarakan kakak terakhirku ini. Secara, hari-hari masa kecil saya penuh cerita dengannya (momong). Ditambah lagi, usia kami terpaut tak terlalu jauh dibanding dengan Mas Imam dan Mba Numi. Yah, meskipun tetap jauh juga sih, 9 tahun! Namun…saya ceritakan sekilas saja ya….

Hubungan kami tak beda jauh seperti hubungan De Nana dan Mas Canggih yang demen banget meledek adeknya, belum puas kalau saya belum nangis. Apalagi kalau ada teman laki-laki yang main ke rumah (ngapel), langsung sasaran empuk, ikut diledekin juga!

Mas Tono termasuk ganteng (kata beberapa teman saya, kalau saya sih nggak tahu orang ganteng yang seperti apa, serius!). Bahkan dulu ada teman yang naksir dan suka caper kalo lagi main ke rumah. Gak sedikit juga cewek-cewek yang ngapelin Mas Tono, sampe surat-surat cinta yang dibiarkan tergeletak dibaca orang-orang serumah. Ada juga yang pedekate sama mamak dengan tujuan ingin jadi mantu dan mengaku tak peduli dengan segala kekurangan Mas Tono (maklum lagi jatuh cinta).

Tapi, setahu saya Mas Tono tidak pernah punya hubungan spesial dengan seorang perempuan. Paling sekedar naksir. Itu pun cuma bilang “si anu cantik ya”. Sudah segitu saja, nggak ada actionnya! Paling banter disuruh nemenin ngapel, tapi teteep…cewek yang diapelin malah naksir sama Mas Tono, bukan sama temen yang minta ditemenin tadi, hahaha….!

Itu dulu, sekarang usia Mas Tono sudah kepala tiga (lahir tahun 1980) dan belum nikah. Sedih sih, sehari-hari di rumah sambil bantu Mba Numi & Mas Budi ngurus pabrik genteng. Kangen sama Mas Tono yang dulu. Sekarang sudah nggak jail, nggak suka ngeledek. Ya, mungkin karena saya sudah bersuami juga.

Sepertinya Mas Tono juga kangen sama saya. Secara saya tinggal jauh di Purbalingga, ke Kebumen paling sebulan sekali. Kalau tahu saya mau datang, Mas Tono seneng banget sampe nyusul ke jalan dan nungguin kalau saya belum kelihatan! Dan kalo saya minta tolong anter atau beliin sesuatu, Mas Tono langsung meluncur! Nggak heran kalo saya lama nggak ke Kebumen, Mas Tono pasti nanya-nanya terus, ribut sendiri di rumah, “kok Menik nggak pulang2?”

Semangat ya Mas, cepet nikah, punya anak, semoga Allah selalu melindungi dan menjaga Mas Tono, amiin….

Keluarga Purbalingga
Bude & Bulik-nya Mas Canggih

Bude & Bulik-nya Ayah Canggih

Sepupu & Keponakane Ayah Canggih

Sepupu & Keponakane Ayah Canggih

Keluarga Kebumen
Pakde & Bude Kiki

Pakde & Bude Kiki

Aan & Mafud, Sepupu Bunda Menik

Aan & Mafud, Sepupu Bunda Menik

Salam Hangat,
Canggih Family

Leave a comment