Love Story

Canggih Family

Bisa dibilang, kami tidak melalui proses pacaran sebelumnya. Semua berawal waktu KKN-PPL UNY di SMA Kolombo Yogyakarta tahun 2010.

KKN-PPL

Mahasiswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan 10-12 orang dari berbagai jurusan. Tiap kelompok mendapat satu sekolah menengah di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Kelompok kami sendiri ada 11 orang, ada yang dari jurusan biologi, geografi, olahraga, dan lainnya. Kalau Mas Canggih dari Seni Musik, sedangkan saya dari Ekonomi.

Semua mahasiswa/i UNY wajib mempraktikkan ilmu kependidikan yang kami pelajari melalui KKN-PPL ini. Jika sebelumnya kami hanya praktik mengajar di laboratorium microteaching (ngajar teman sendiri), di sini kami harus langsung menghadapi siswa-siswi SMA.

Bukan itu saja, kami juga harus membuat proyek-proyek di sekolah tersebut, seperti tamanisasi, membuat laboratorium IPS, labeling, dan banyak lainnya. Padatnya jadwal tersebut membuat kami sibuk di SMA Kolombo dari pagi sampai sore selama sekitar 3 bulan. Mau tak mau, kami jadi sering bertemu dan berkomunikasi. Kalau orang Jawa bilang, “Witing Tresno Jalaran Soko Kulino“, yang artinya, “Cinta tumbuh karena terbiasa”.

Namun, saat itu hubungan kami baru sebatas rekan kerja, tidak lebih. Kami merasa klik saat berinteraksi, tapi saya tetap berusaha professional dan tidak mau berangan-angan. Sama seperti Mas Canggih yang sudah sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya. Ya, Mas Canggih kuliah sambil bekerja sebagai guru vocal di Ahmad Dhani School of Rock, jadi waktunya benar-benar padat.

Selesai KKN-PPL, skripsi, dan wisuda, saya kembali ke kota kelahiran (Kebumen) dan bekerja di MA Al-Barokah. Sedangkan Mas Canggih masih menikmati hari-harinya di Jogja. Setahun setelah saya wisuda, Mas Canggih dan teman-temannya (Mas Bimo dan istrinya, Mba Intan) datang ke rumah. Setelah sekian lama tidak berkomunikasi, tiba-tiba Mas Canggih minta ketemu? Tentu saja saya penasaran, kok tumben? ^_^

Mas Bimo dan Mba Intan

Mba Intan & Mas Bimo

Setelah sedikit basa-basi, suasana menjadi hening, saya pun mencoba membuka obrolan, “Di facebook banyak temen-temen kamu yang ngucapin turut berduka cita, emangnya sapa yang meninggal?” Mas Canggih dan Mas Bimo saling berpandangan penuh makna. “Bapakku Nick”, wajah Mas Canggih berubah sendu seketika. Akhirnya Mas Canggih cerita apa yang terjadi.

“Seminggu sebelum meninggal, Bapak dan Ibu ke Jogja. Bapak yang biasanya nggak mau diajak, waktu itu mau karena udah kangen berat sama anak laki-laki satu-satunya. Tapi, bukannya nemenin mereka di kos atau jalan-jalan bareng, aku malah asik sendiri sama temen-temen dari pagi sampe pagi lagi, aku nggak tidur di kos. Waktu aku pulang ke kos, Ibu marah dan langsung balik ke Purbalingga. Kalo bapak sih masih sempat bicara sama aku dan tanya kapan aku pulang ke Purbalingga.

Selang beberapa hari, bapak nelfon dan tanya hal yang sama, ‘Canggih, kapan kamu pulang, apa mau nunggu bapak nggak ada?’ Asal kamu tau Nick, pada hari itu, udah 8 bulan aku nggak pulang ke rumah. Sampai akhirnya Ibu nelfon dan ngasih kabar kalo Bapak masuk UGD Rumah Sakit Emanuel. Aku langsung ke lokasi dan Bapak udah nggak sadar. Aku pengen banget bapak ngebuka matanya dan bicara sama aku. Aku pengen minta maaf dan bapak maafin aku. Aku nangis! Dokter bilang, bapak kena tekanan darah tinggi dan pembuluh darahnya pecah!

Semua emang udah digariskan sama Allah. Rejeki, jodoh, dan kematian adalah rahasia Allah. Bapak menghembuskan nafas terakhirnya tanpa sepatah kata pun buat aku. Aku pingsan hingga tiga kali. Aku inget saat-saat di mana aku cuek waktu bapak ingin bicara denganku. Aku sadar kalo bapak pengen banget ngobrol dari hati ke hati, tapi nggak pernah kesampean, aku tenggelam dalam duniaku sendiri.

Aku terus memohon sama Allah, beri aku kesempatan sekali aja bicara sama bapak walau hanya dalam mimpi. Aku terus berdoa, shalat, dan minta petunjuk. Hingga akhirnya aku mimpi pada suatu malam. Dalam mimpi itu, bapak pake baju warna putih, senyum sama aku. Lalu bapak nunjukin seorang gadis yang ada di sebelahnya. Seolah-olah, bapak bilang kalo gadis itu jodohku. Dan, gadis dalam mimpi itu adalah kamu, Nick.”

Mas Canggih pun menyatakan niatnya untuk hidup bersama dalam ikatan suci pernikahan. Dengan perasaan yang diaduk-aduk sekaligus berbunga-bunga, saya jawab ajakan Mas Canggih, “Aku bersedia. Tapi, kalau kamu bener-bener serius, temui orangtuaku dulu dan minta restu sama mereka.”

Singkat cerita, setelah melewati doa dan shalat istikharoh, jadilah kami sepasang suami istri sekarang. Kami menikah karena petunjuk Allah dan Allah lah yang menyatukan cinta kami insya Allah, semoga abadi hingga ke surga nanti, amiin.

Leave a comment