My Thoughts

Impian Bu Menik sudah terwujud, yaitu menjadi guru. Apakah Bu Menik masih betah dan menikmati saat-saat di sekolah bersama para siswa? 

Masih dong. Saking menikmatinya, kadang saya khawatir kebablasan. Karena saya menganggap para siswa sebagai teman. Biar nggak kebablasan, maka saya tegaskan kepada mreka untuk bisa menempatkan diri, kapan saatnya santai, kapan saatnya serius.

Apa yang Bu Menik pikirkan dan rasakan ketika bersama dengan siswa?

Pada dasarnya, mereka adalah pembelajar sejati. Buktinya, mereka telah belajar banyak hal, seperti kosakata-kosakata baru ketika masih balita. Belajar berjalan tak kenal lelah, meski terjatuh berulang kali. Berusaha mencari tahu benda-benda yang ada di sekitarnya dengan berbagai cara, bahkan mereka rela memasukkan benda-benda tersebut ke dalam mulut!

Saya ingin mengembalikan jiwa pembelajar yang siswa miliki, membuat mereka menyukai aktivitas belajar sepanjang hayat.

Membuat siswa suka belajar? Maksudnya, betah belajar di kelas atau bagaimana?

Belajar tidak hanya di kelas bersama dengan Bapak/Ibu guru. Belajar bisa kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja, dan tentang apa saja! Belajar bisa di kantin saat membeli jajan, di lapangan saat upacara, di kamar saat menjelang tidur, saat menyapu halaman rumah, di jalan saat berangkat sekolah, dan lain sebagainya.

Jika siswa sudah suka belajar, itu artinya mereka sudah menemukan makna dari apa yang mereka pelajari. Sehingga, mereka akan terus mencari hal-hal baru, wawasan baru, atau pengalaman baru untuk mengembangkan pengetahuan yang telah mereka dapatkan.

Apakah Bu Menik pernah menghadapi siswa yang tidak suka belajar atau siswa yang tidak mengikuti proses KBM (kegiatan belajar mengajar) dengan baik, seperti tidur, ngobrol sendiri, dan sikap kurang antusias lainnya?

Tentu saja pernah. Saya rasa semua guru pernah mengalami. Dan setiap guru memiliki caranya masing-masing dalam mnghadapi keadaan seperti itu. Bagi saya pribadi, sebisa mungkin saya tidak menyalahkan anak 100%. Saya memahami kondisi siswa yang dituntut untuk menguasai berbagai materi pelajaran, menyesuaikan diri dengan berbagai tipikal guru, menyelesaikan tugas dan PR yang menumpuk. Jadi, saya tidak akan memaksa mereka untuk melakukan apa yang saya mau, mendengar apa yang saya ucapkan, menulis apa yang saya katakan, dan sebagainya. Yang saya lakukan adalah:

  1. Saya berusaha intospeksi diri lebih dulu, apakah metode pembelajaran yang saya terapkan sudah efektif? Apakah cara mengajar saya sudah mampu mengakomodasi berbagai minat dan karakter siswa?
  2. Memberikan pemahaman pada siswa, mengapa mereka perlu mempelajari materi tersebut?

Saya menyadari kondisi kejiwaan siswa yang masih labil, berubah-ubah, terus berkembang, dan bertransformasi. Jika guru menggunakan metode pembelajaran konvensional dan seragam (duduk, mendengarkan, mencatat) secara terus-menerus, besar kemungkinan siswa menjadi jenuh dan kurang antusias. Herbartian mengatakan, “Akal budi itu seperti panggung kosong, yang pasif menunggu informasi untuk ditampilkan.” Kseimpulannya, siswa akan menemukan makna jika mereka ikut terlibat dalam penampilan di atas panggung.

Bagaimana pendapat Bu Menik tentang nilai?

Nilai rapor, nilai UTS, UAS, UKK, bahkan UN bukanlah tujuan belajar yang utama. Namun, kebanyakan orang menganggap nilai sebagai hasil akhir dari proses belajar. Jadi, kalau nilai UN rendah, siswa dianggap telah gagal. Kadang mereka merasa segalanya telah berakhir. Benarkah begitu?

Bagi saya, belajar dikatakan berhasil jika:

  1. Kita telah memiliki kesadaran dan kemampuan untuk mengamati, menganalisa, mempelajari, serta menekuni segala hal yang terjadi di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari, meskipun sekolah telah usai.
  2. Memiliki keterampilan hidup untuk berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan.

Leave a comment