Ibu, Terimakasih Untuk Lima Tahun Bersamamu

Kata orang, menikah itu…

  1. Sudah lepas dari orang tua
  2. Harus bisa mandiri

Seperti apakah keluarga mandiri itu? Keluarga mandiri adalah keluarga yang tidak tergantung oleh keluarga atau pihak lain, baik dalam segi keuangan, maupun tempat tinggal. Mandiri sering diartikan dengan sendiri (apa-apa sendiri). Sendiri yang dimaksud di sini adalah pasangan suami-istri (pasutri). Misalnya, punya rumah sendiri, penghasilan sendiri, kendaraan sendiri, dan sebagainya.

Tentu saja, hidup serumah dengan orang tua atau mertua bukan berarti nggak mandiri. Ada tantangan untuk menyeimbangkan peran istri sekaligus menantu. Hidup bersama juga nggak berarti meminta, tapi berbagi. Baik berbagi materi, maupun pikiran.

Baca: Tips Hidup Serumah Dengan Orangtua Atau Mertua Setelah Menikah

Menjadi keluarga mandiri berarti memiliki kemandirian ekonomi. Sebagai keluarga muda, sudah semestinya kita mencapai kemandirian itu setahap demi setahap. Bukan malah menghambur-hamburkan uang karena belum banyak pengeluaran untuk anak. Justru inilah saatnya menabung untuk masa depan.

Mandiri juga sering diartikan dengan perpisahan. Maksudnya, berpisah dari orangtua. Tapi, karena bapak mertua udah nggak ada, sedangkan De Nana adik ipar saya satu-satunya (suami hanya dua bersaudara) sudah kuliah, maka ibu mertua menghendaki agar saya dan suami menemani beliau. Setelah De Nana lulus, baru kami bisa hidup terpisah dari ibu.

Alkhamdulillah November 2018 ini De Nana wisuda dan kembali ke rumah. Artinya, sudah saatnya saya dan Mas Canggih “misah” (ngontrak dulu sist). Lima tahun rasanya cukup sebagai bekal berumahtangga. Bekal? Ya, saya belajar banyak dari ibu. Belajar membagi waktu untuk keluarga, belajar menata rumah dengan rapi, menyiapkan makanan, dan yang paling penting ibu sudah membimbing saya bagaimana hidup bermasyarakat sebagai seorang istri.

Seneng ya mau “misah”? Ya, seneng nggak seneng. Senengnya karena akhirnya saya bisa berduaan saja dengan suami (serasa pengantin baru gaes, hihiiii). Nggak senengnya? Karena saya menyadari, begitu besar tanggung jawab yang harus kami pikul bersama. Harus memikirkan segala sesuatunya sendiri. Apalagi kalau si buah hati lahir nanti, makin banyak yang harus kami pikirkan. Tapi, kami percaya, kalau hati selalu bersyukur, maka semua akan indah terasa. Yen wis tresno paite kopi rasane legi #hoahoe ^_^

Leave a comment

About the Author

I'am a proud wife, happy teacher, and a craftpreneur...welcome to my blog ^_^

Leave A Response